Kamis, 04 Mei 2017

Raja Poli (1)

Stasion TV swasta bertambah lagi, namanya MetrominiTV. Ini memang mengingatkan kita pada nama suatu TV swasta yang sudah ada. Jika TV swasta yang dimaksud mempunyai warna identitas yang serba biru, maka MetrominiTV mempunyai warna yang khas, yaitu serba hijau.
Ada anggapan di masyarakat, warna menunjukkan suatu prinsip, sikap, atau cara pandang. Warna kuning biasanya bernuansa dominasi, chauvinis, merasa superior. Warna merah, menandakan berani, kritis, namun terkesan mudah gusar atau pemarah. Warna hijau seringkali dikaitkan dengan suatu agama tertentu. Sedangkan warna biru biasanya menunjukkan mereka berdiri di semua golongan, saking netralnya, di stasion TV yang punya identitas biru itu tak ada wartawan yang berkerudung karena dianggap “tidak netral”. Saya kurang tahu, warna identitas hijau dari MetrominiTV apakah karena memang mereka bernuansa agama tertentu, atau ada hubungannya dengan nama stasionnya yang mirip jenis angkutan kota yang umumnya berwarna hijau.

Salah satu program yang menarik di MetrominiTV adalah “Mata Risi Nurulhuda”. Sekali lagi acara ini pun mengingatkan kita pada suatu acara yang namanya mirip-mirip di TV swasta yang bernuansa biru tersebut. Pernah pada salah satu edisode, si wartawan cantik Nurulhuda, mewawancarai seorang Raja. Wawancara tersebut tentu saja bukan tentang mata Nurul yang memang mempunyai mata yang indah mempesona, namun tentang kehidupan sang Raja.
Acara “Mata Risi” memang sesuai namanya, yaitu membahas yang bersifat risi. Asli kata RISI itu berasal dari bahasa Jawa yang artinya “tak enak” atau segala sesuatu yang membuat menganggu. Kata “risi” saat ini sudah menjadi bahasa Indonesia (menjadi “risih”).
Acara ini memang menarik, apalagi yang membawakannya adalah Nurulhuda yang selain cantik, juga Nurul itu cerdas dan memang banyak pengetahuannya, yah . . . memang klop dengan namanya. Nurulhuda punya arti “cahaya pengetahuan” atau “petunjuk”.

Tadi disebutkan, yang diwawancarai Nurul kali ini adalah seorang Raja. Namun ini bukan Paduka Yang Mulia Raja Bhumibol Adulyadej dari Muangthai, Raja Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah, atau Raja Arab Saudi Abdullah bin Abdul Aziz. Raja yang didatangkan ke depan kamera MetrominiTV, adalah Raja Poligami, yaitu Patrio Wijoyo. Memang si Raja Poligami ini namanya mirip-mirip dengan Panembahan Senopati Sutowijoyo, salah satu raja Kerajaan Mataram yang juga beristri banyak. Berikut ini adalah cuplikan wawancara tersebut.

Nurul: Assalamu’alaykum pak, silakan duduk.
Patrio: Wa ‘alaykumsalam mbak. Terima kasih
Nurul: Sendirian saja pak? Nggak dibawa istri-istrinya?
Patrio: Wah, susah. Kalau saya bawa sebagian, eh . . maksudnya bawa satu istri, ntar saya tak enak sama yang lain. Kalau saya bawa semuanya, lebih tidak mungkin, nanti perusahaan saya berhenti. Perusahaan kan harus tetap jalan.
Nurul: Lho, yang empat orang itu pegawai bapak atau istri bapak? Kok perusahaan jadi berhenti?
Patrio: Oh, tentu saja istri saya. Tapi mereka semua memang menjadi direktur.
Nurul: Oya? Lalu kenapa tadi bapak mengatakan “tidak enak sama yang lain” jika hanya membawa satu istri. Kenapa bapak tidak mengatakan “khawatir mereka cemburu” jika hanya membawa satu istri?
Patrio (menggelengkan kepala): Oh tidak, tidak, mereka tidak ada yang cemburu kepada saya. Mereka penuh pengertian. Saya merasa berhasil sebagai suami yang berpoligami.
Nurul: O begituuu. Jadi pantas ya bapak diberi gelas Raja Poligami?
Patrio (tertegun sebentar): Yah, yang memberi gelar itu kan bukan saya.
Nurul: Tapi bapak tidak menolak bukan diberi gelar seperti itu?. Biasanya orang kan suka malu jika diberi gelar yang aneh-aneh, maksud saya kan ini tidak lazim.
Patrio: Sebentar mbak. . . Tak lazim bagaimana maksudnya? Itulah yang salah di masyarakat kita. Mereka belum terbiasa, jadi saya merasa terpanggil untuk memasyarakatkan hal yang tak lazim tersebut.
Nurul: Yang dimasyarakatkan itu Poligaminya atau istilah Raja Poligaminya?
Patrio: Emm, ya dua-duanya.
Nurul: Ok deh, Ngomong-ngomong bidang bisnis apa yang bapak geluti? Saya dengar bapak usaha Poliklinik?
Patrio: Betul. Saya sukses usaha di bidang Poliklinik. Poliklinik swasta yang pertama saya dirikan adalah di Solo, namun sekarang sudah ada di 10 kota di 4 propinsi.
Nurul: Wah, jadi bapak bukan hanya sebagai Raja Poligami tapi juga Raja Poliklinik ya?
Patrio: Nggak juga. Saya juga sekarang punya 5 Politeknik di 5 ibukota propinsi.
Nurul (terkejut): Walah staf saya di MetrominiTV rupanya kurang bekerja optimal, karena saya hanya diberi bocoran tentang Poliklinik saja.
Patrio: Ya nggak apalah mbak. Memang saya belum terlalu sukses. Sehingga staf mbak wajar saja belum mengetahuinya.
Nurul: Oya, tadi bapak bilang semua istri bapak jadi direktur? Kalau ada 10 poliklinik dan 5 Politeknik, berarti ada 11 direktur bukan dari kalangan keluarga ya?
Patrio: Sebenarnya bisa dibilang dari kalangan dekat juga. Mereka adalah para mantan istri saya yang sudah mengundurkan diri. Jadi begitu mereka minta mengundurkan diri atas kemauan sendiri atau atas pemintaan saya, maka mereka saya jadikan direktur di salah satu perusahaan tersebut.
Nurul: Wah wah, bapak ini unik juga. Kenapa bapak menggunakan istilah mengundurkan diri? Bukankah dalam agama istilahnya “gugat cerai” atau khulu’, dan jika dari sisi bapak istilahnya “menceraikan” atau mentalak?
Patrio: Menurut saya, mengundurkan diri itu lebih terhormat karena menunjukkan suami dan istri punya kedudukan yang sama. Menikah itu adalah kesepakatan bekerja dalam tim, jadi kalau sudah tidak mau melanjutkan komitmen ya lebih tepat istilahnya mengundurkan diri.
Nurul: Istilah cerai kan istilah di Quran dan Hadist, jadi itu adalah syariat Allah swt yang wahyukan kepada Rasulullah. Kalau bapak bilang lebih terhormat, kok rasanya menganggap istilah cerai itu sesuai yang salah? Hati-hati lho pak!
Patrio (tampak gelisah sebentar): Ya itu cuma istilah saya, tanpa bermaksud menyalahkan apa yang ada di Quran.
Nurul (tersenyum agak lama): Ok deh. . . .Oya selain Raja Poligami, Raja Poliklinik, dan Raja Politeknik, apa bapak juga berkeinginan menjadi Raja yang lain? Raja apa misalnya ya, . . . (terdiam, berpikir sejenak).
Patrio (tersenyum): Hehehe Raja apalagi mbak?
Nurul: Poli apa tuh yang mengenai plastik? . . Poli-etilen ya? Ya betul poli-etilen. Jangan-jangan bapak mau usaha di bahan plastik, jadi bapak sekalian mau jadi Raja Poli-etilen? Menyuplai plastik utk pabrik ember dan kantong kresek?
Patrio (tersenyum lagi lalu berkata pelan): Saya memang sedang merintis pabrik Poli-etilen di Tangerang.
Nurul: Waduh, kok tebakan saya tepat, tapi terus terang ini terlintas di benak saya barusan lho pak, dan bukan dari investigasi di belakang layar yang kami lakukan. Bener nih saya kecewa dengan kerja staf saya, mereka kurang menyuplai saya informasi yang akurat mengenai bapak.
Nurul (melirik ke arah studio, lalu berpikir sebentar).
Nurul: Ntar saya ceraikan saja staf saya tersebut karena kerja nggak becus.
Patrio (matanya berbinar): Oh, staf mbak Nurul itu suami mbak?
Nurul: Oh bukan, mereka staf information-support. Setiap wartawan senior seperti saya punya pasukan 10 orang staf information-support.
Patrio: Oh, kenapa pakai istilah cerai? Bukannya dipecat atau apa gitu.
Nurul: Ya samalah dengan istri bapak yang mengundurkan diri. Cerai dan gugat cerai adalah istilah di MetrominiTV untuk diberhentikan dan minta pensiun dini.
Patrio (geleng-geleng kepala sampai tersenyum): Ah, mbak Nurul ngeledek saya rupanya.
Nurul (tertawa): Ah saya nggak bermaksud demikian.
Ok deh pak. Sekarang saya mau tanya yang lain, namun masih berkaitan dengan direktur perusahaan, boleh ya?
Patrio: Silakan.
Nurul: Tadi kan ada 11 perusahaan atau lembaga yang dipimpin oleh mantan istri. Berarti bapak sudah menceraikan. . . eh, maksud saya mempensiunkan atau mengabulkan permohonan pengunduran diri, waduh kok jadi repot gini ngomongnya, . . . , 11 orang ya pak? Banyak juga ya? Alasannya apa pak kalau boleh tahu
Patrio: Saya lengkapi informasinya ya? Sebenarnya tidak semuanya mantan istri, tetapi ada juga yang calon istri tapi nggak jadi, hehehe. . .
Nurul: Waduh, apa lagi tuh pak?
Patrio: Maksudnya, setiap saya pasang iklan cari pegawai, cari direktur, atau manajer, saya kan mewawancarai sendiri para calon pegawai tersebut. Nah disitu sekalian saya lihat, apakah ada yang bisa dijadikan sebagai istri.
Nurul: Wah cari istri kok persis seperti cari pegawai ya? . . .
Patrio: Yaa memang mirip.
Nurul: Sebenarnya bapak curang juga ya?
Patrio: Maksud mbak?
Nurul: Ya, kalau orang lain cari istri kan susah payah. Ada problem psikis dan problem teknis pada saat fase pendekatan, harus mengatasi ketakutan-lah, grogi-lah, perlu media-lah, sulitnya cari kesempatan-lah, ada yang perlu mak coblang-lah, dsb.
Kan fitrahnya laki-laki itu bangga mendapatkan istri dengan perjuangan dan usaha yang keras. Malahan sebagian besar pria merasa tidak tertantang, bahkan merasa kurang macho jika mendapatkan pasangan hidupnya terlalu mudah. Sedangkan bapak, berlindung dibalik proses perekrutan pegawai. Itu yang saya maksud curang.
Patrio: Hahaha. . . Itu bukan curang, tapi cerdas, dan efisien.
Nurul (menggelengkan kepala tanpa senyum): Lalu apa kriteria bapak apa?
Patrio (sambil tersenyum): Ya jujur saja. Tentu saya lihat mana yang cantik.
Nurul: Mana yang akan dipilih, cantik tapi hasil tes kemampuan kurang, atau yang kurang cantik namun kemampuannya untuk menjadi manajer tinggi?
Patrio: Kalau pilihannya itu, saya tidak menerima keduanya. Saya kan cari yang mampu untuk menjadi pegawai atau menjadi manajer namun juga cantik dan bisa dijadikan istri.
Nurul: Lalu hubungannya dengan calon istri tadi bagaimana? Tadi kan belum selesai ceritanya.
Patrio: Jadi memang yang jadi direktur selain istri yaitu 4 perusahaan, lalu 8 perusahaan dipegang mantan istri, dan 3 perusahaan dipimpin oleh calon istri. Maksudnya calon istri adalah pegawai yang tidak mau dijadikan istri.
Nurul: Yang 3 orang itu pegawai baru hasil recrutment atau pegawai lama?
Patrio: Pegawai baru.
Nurul: Nah itu berarti kecurangan bapak yang kedua.
Patrio (tampak agak gusar): Maksudnya bagaimana?
Nurul: Lamaran bapak, maaf, maksud saya tawaran bapak untuk memperistri ditolak, tapi bapak ingin tetap dekat dengan dia. Ini yang saya maksud curang.
Patrio (menjawab dingin): Itu menurut Anda.
Nurul: Bapak tampak tidak senang dengan pernyataan saya barusan, ok saya koreksi. Bukan kecurangan, tapi itu kenakalan bapak. Hehehe.
Patrio: Hmm, saya laki-laki normal mbak Nurul.
Nurul: Mengapa bapak menyebut 3 orang itu calon istri, bukankah tidak lazim mengatakan perempuan yang menolak menikah atau menampik cinta seseorang disebut sebagai calon istri? Itu tidak “pas” pak. Tampaknya bapak mengatakan itu calon istri karena bapak menganggap mereka akan berubah pikiran kelak?
Patrio: Ya kita lihat saja.
Nurul (agak kikuk): Bapak belum menemukan jawabannya, menyembunyikannya, atau malas menjawab pertanyaan ini?
Patrio: Pertanyaan yang lain saja.
Nurul: Tadi ada pertanyaan yang belum terjawab.
Patrio: Bisa diulang, saya lupa.
Nurul: Alasan bapak memecat atau mengabulkan pengunduran diri istri.
Patrio: Oya. . . (berpikir sebentar)
Patrio: Emm, ada yang ingin monogami. Ada yang saya tidak mencintainya lagi.
Nurul: Berapa orang yang berpikir ulang dan dia ingin monogami?
Patrio: Satu.
Nurul: Apakah akhirnya dia menikah lagi dengan orang lain?
Patrio: Iya
Nurul: Terus dia masih diberi kepercayaan memimpin perusahaan?
Patrio: Ya nggak-lah. Dia kan sudah jadi istri orang lain.
Nurul: Oh, jadi istri yang mengundurkan diri sebagai istri tersebut juga diceraikan sebagai pegawai? Maaf, maksud saya dia juga diberhentikan sebagai pegawai?
Patrio (tak menjawab hanya menganggukkan kepala).
Nurul: Apakah dia sebenarnya punya kemampuan dalam memimpin perusahaan?
Patrio (tak menjawab hanya tersenyum).
Nurul: Wah, kalau memang dia sebenarnya mampu dan profesional, lalu bapak pecat, maka bapak tampaknya bukan real-business man.
Patrio (masih tak menjawab, dan tersenyum kecut).
Nurul: Lalu yang 7 orang memang bapak tidak mencintainya lagi, atau karena ada yang ingin bapak nikahi lagi? Jawab dong pak. Jangan diam saja, kita disaksikan para pemirsa lho!
Patrio (mencoba tersenyum): Ya, dua-duanya benar. Nggak cinta lagi, dan karena ada calon istri lain.
Nurul: Ok deh pak. Kita istirahat sejenak (wajah Nurul beralih ke pemirsa).
Pemirsa MetrominiTV yang kami hormati, jangan kemana-mana, kita akan kembali setelah jeda iklan berikut ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar