Kamis, 04 Mei 2017

Raja Poli (2)

Nurul: Baik pak Patrio, kita lanjutkan perbincangan kita.
Patrio (tampak lebih tenang): Boleh, silakan mbak.
Nurul: Tadi kita baru membicarakan mengenai alasan bapak menceraikan istri . .
Patrio (menginterupsi): . . tepatnya mengabulkan permohonan pengunduran diri
Nurul: Ok. Bagi saya sama saja. . .(tersenyum sebentar).
Boleh tahu pak, kalau bapak tidak keberatan untuk menyebutkan nama istri-istri bapak sekarang?
Patrio: Oh, boleeeh. Mereka pasti senang, mereka sedang menyaksikan acara ini juga.
Nurul (menunggu dan menatap pak Patrio, tapi pak Patrio hanya tesenyum): Silakan pak, siapa nama istri bapak. Mungkin disebutkan dari mulai istri pertama, kedua, dan seterusnya.
Patrio: Istri saya yang pertama Aminah, yang kedua . . . Siti . . Siti Hanifa . . eh . . Siti Haifa (pak Patrio tampak kehilangan diri)
Nurul (tersenyum-senyum): Hanifah atau Haifa pak?
Patrio (salah tingkah): Hiafa . . eh Haifa, Siti Haifa. Saya memang suka salah manggil. . .
Nurul (masih tersenyum-senyum): Beda lho pak, nama Hanifah itu artinya adalah muslimah yang teguh dan lurus, sedangkan Haifa artinya perempuan yang langsing.
Patrio (masih tampak dibawah tekanan): Oh gitu?, ya . . ya . .
Nurul: Yang ketiga pak?
Patrio: Em . . Kirana Salsabila, dan keempat Muthia, . . Muthia Hapsari.
Nurul (menggoda): Nggak salah pak?
Patrio (tampak berusaha menenangkan diri): Oh tidak.
Nurul: Ok terima kasih pak. Anda sekarang punya putera berapa?
(HP pak Patrio berdering)
Patrio: Maaf, sebentar (sambil merogoh kantongnya)
Nurul: Silakan pak silakan, tapi kalau bisa nanti setelah ini sementara dimatikan saja pak.
Patrio berbicara dengan seseorang di seberang sana, bicara dengan muka panik.
Patrio: Oh, ya, ya, . . . maaf ya sayang. . . , ok baik nanti saya koreksi. Walaykum salam.
Nurul: Darimana pak kok kelihatannya mesra? Dari istri atau anak? Tidak disuruh pulang kan? Hahaha. Apakah ada hubungannya dengan perbincangan ini?
Patrio: Dari istri saya Muthia. Maaf tadi salah sebut, Muthia Salsabila istri saya yang ketiga, Kirana Hapsari yang keempat (pak Patrio tampak grogi)
Nurul (tertawa terbahak): Hahaha. . . Rupanya dia protes ya. Waaah, gimana nih pak, kok lupa mana istri yang dinikahi duluan?. Sebentar, rasanya tadi namanya juga terbalik ya?
Patrio: Eh, iya, yang benar Muthia Salsabila bukan Muthia Hapsari, yang Hapsari itu Kirana.
Nurul (tertawa lagi): Walah walah bapak lucu juga, selain lupa urutan, lupa sama nama istri sendiri, hahaha. . .
Patrio: Ya, maklumlah sudah tua.
Nurul: Emang berapa usia pak Patrio sekarang?
Patrio: Jalan 46
Nurul: 46? Wah masih muda itu pak. Masih usia produktif. Masa 46 bapak merasa sudah tua? Umur 50-60 masih bisa mencalonkan jadi Presiden lho. Di Uni Sovyet dulu, rata-rata umur 80 masih ikut pemilihan Presiden
Patrio: Ya, saya agak lupa saja.
Nurul: Ok, tadi saya tanya mengenai putera bapak?
Patrio: Oya, jumlahnya ya? Anak saya alhamdulillah 18 orang.
Nurul: Betul pak 18? Coba dingat-ingat lagi? Hahaha. . .
Patrio: Betul, betul, 8 laki-laki, 10 perempuan.
Nurul: Bapak hapal dengan nama-nama mereka?
Patrio (tersenyum): Saya nggak bawa Tablet Mac saya. Di sana lengkap data tentang anak saya, tanggal lahir, sekolahnya dan sebagainya.
Nurul: Hehe, saya tidak perlu mengetahui serinci itu pak. Atau gini saja, bapak cukup menyebutkan jumlah anak dari istri pertama, kedua, ketiga,dan keempat.
Patrio: 18 orang itu bukan dari 4 istri yang sekarang saja, namun juga yang dulu. Jadi agak repot kalau menyebutkan dari istri yang mana.
Nurul: Baiklah pak, kita beralih ke pertanyaan lain (diam sejenak, namun masih tersenyum)
Saya ingin tahu, sebenarnya apa motivasi bapak melakukan poligami.
Patrio: Saya ingin mengikuti sunnah Rasul.
Nurul: Oh, sunnah Rasul ya?
Patrio: Ya. Mbak Nurul berkerudung, jadi nampaknya muslimah yang taat juga, jadi tak perlu saya jelaskan apa yang disebut Sunnah Rasul.
Nurul: Makan menggunakan tangan kanan, menjamu tamu, menjaga hubungan baik dengan tetangga, dan sebagainya juga Sunnah Rasul. Apakah poligami memiliki tingkat atau level yang sama atau analog dengan itu?
Patrio (diam sebentar): Saya takut salah jawab. Bagusnya pak Kiai atau ulama saja yang lebih kompeten menjawab hal itu mbak.
Nurul: Apakah bapak mengetahui berapa wanita yang pernah dinikahi Rasulullah?
Patrio: Kalau tidak salah 10 atau 12
Nurul: 12 orang.
Bapak bisa menyebutkan istri Rasulullah siapa saja? Sebisanya saja pak, tidak harus semuanya. Atau kalau tidak hapal nama, bisa juga disebutkan dia itu siapa atau statusnya apa.
Patrio: Khodijah, Aisyah, Saudah, . .
Saudah itu mantan istri seorang muslim yang mati syahid di perang Uhud. Terus . . . em, ada yang bergelar ibu Fakir Miskin, cuma saya lupa namanya.
Nurul: Sudah? Itu saja pak.
Patrio (tersenyum): Ya itu saja yang saya ingat.
Nurul: Bapak punya alasan kenapa yang diingat 4 orang tersebut?
Patrio: Khodijah kan istri Rasul yang pertama, dan Rasulullah sangat bersedih ketika Khodijah wafat.
Kalau Aisyah, karena banyak meriwayatkan hadist dan banyak kisahnya. Yang ibu fakir miskin saya ingat karena . .
Nurul (memotong): Zainab binti Khuzaimah. Karena ada dua Zainab, satu lagi Zainab binti Jahsyi, yang diceraikan oleh Zaid.
Patrio: Oya, betul Zainab, beliau terkenal juga, karena rumahnya selalu dipenuhi dengan orang miskin dan anak yatim. Sehingga Rasulullah menikahi beliau dengan tujuan bersama-sama menyantuni orang yang lemah.
Kalau Saudah, saya sering mendengar kisah perselisihannya dengan Aisyah. Mungkin mereka berdua bersaing mendapatkan perhatian yang lebih dari Rasulullah.
Nurul: Bapak tahu berapa umur Saudah saat dinikahi Rasulullah?
Patrio: 35 tahun?
Nurul: Itu cuma setengah umurnya pak. Saudah berusia 70 tahun saat dinikahi Rasul. Rasul sendiri saat itu berusia 52 tahun. Bapak tahu nama istri Rasulullah yang berkulit hitam?
Patrio: Ada gitu? Saya tak ingat atau saya belum tahu.
Nurul: Ya Saudah itu. Beliau berasal dari Sudan. Suaminya adalah As-Sukran. As-Sukran wafat di perang Uhud karena melindungi Rasulullah.
Patrio (manggut-manggut perlahan)
Nurul: Bapak pernah mempelajari alasan Rasulullah menikahi wanita-wanita tersebut?
Patrio (berdiam diri sebentar, memandang Nurul, dia tampak waspada, dia berusaha menebak arah pertanyaan Nurul)
Patrio: Yah, di antaranya untuk ikut membantu menyantuni anak yatim, orang miskin, dan orang yang lemah . .
Nurul: Betul itu saat menikahi Zainab binti Khuzaimah yang dikenal sebagai Ummul Masakin, ibu kaum fakir dan miskin. Yang lain pak?
Patrio: Menikahi janda perang, seperti Saudah.
Nurul: Yang lain?
Patrio (berpikir, menundukkan kepala).
Nurul: Pembebasan budak. Mariyah dan Juwairiyyah adalah budak yang dibebaskan oleh Rasul. Dan ada alasan lain, yaitu menjaga ketauhidan mereka.
Patrio (memegang dagunya, tersenyum sedikit).
Nurul: Apalagi pak, alasan Rasulullah menikahi atau pernah menikahi 12 wanita tersebut? Saya sudah membantu lho barusan.
Patrio: Apalagi ya?
Nurul: Kalau Aisyah? Kenapa Rasulullah menikahi Aisyah?
Patrio: Hehehe, saya kok rasanya sedang ikut ujian ya?
Nurul: Bukan pak, kita kan cuma sharing nih ceritanya.
Patrio: Aisyah itu kan penghapal hadist. Mungkin karena dia cerdas?
Nurul: Misi utamanya sebenarnya bukan itu pak. Kepada Aisyah-lah Rasulullah mengajar segala hal tentang kewanitaan untuk disampaikan kepada kaum wanita.
Patrio: Oh, ya.
Nurul: Ok deh pak, bisa sebutkan satu lagi alasan kenapa Rasulullah menikahi wanita-wanita tersebut?
Patrio (membuka telapak tangannya, dan sedikit menggelengkan kepala sambil tersenyum)
Nurul: Da’wah.
Shafiyah dan Maimunah itu dari suku dan lingkungan Yahudi, Hafsah sebagai wanita penghapal Quran yang pertama, Aisyah yang ahli ilmu kewanitaan dan hadist, dan Ummu Salamah yang pandai mengajar.
Kemudian alasan lain adalah menjaga ketauhidan. Saudah, Shafiyah, dan Juwairiyyah terancam keimanannya karena lingkungannya. Sedangkan Ummu Habibah itu dinikahi karena suaminya murtad, pindah agama ke Nasrani.
Patrio: Wah, salut deh, mbak Nurul pengetahuannya luas juga.
Nurul: Kalau pak Patrio, apa alasan bapak menikah lagi?
Patrio (memandang Nurul, tampak ingin berkata sesuatu)
Nurul: Oya pak. Bapak tahu dari 12 orang istri Rasul, berapa yang berstatus janda?
Patrio: Zainab, Saudah, lalu yang tadi mbak sebutkan yang suaminya murtad . . . Salamah ya? Ummu Salamah?
Nurul: Yang janda itu 10 orang pak. Hanya Aisyah dan Mariyah yang perawan.
Patrio (manggut-manggut).
Nurul: Bapak tahu berapa orang yang usia para janda tersebut?
Patrio (masih manggut-manggut dan tersenyum sedikit).
Nurul: 80% di atas 45 tahun, dan 40% dari yang 80% malah di atas 60 tahun.
Patrio (memandang Nurul tanpa senyum).
Nurul: Jadi yang tadi itu apa pak?
Patrio: Yang mana?
Nurul: Alasan bapak menikah lagi?
Patrio (terdiam sejenak lalu menjawab perlahan): Saya harus menjalankan perusahaan dengan baik. Kan saya harus keliling dan keluar kota tempat perusahaan saya beroperasi. Dan saya terus terang kemana-mana harus didampingi istri.
Mbak bisa maklum kan. Kalau istri saya cuma satu dan dia sedang berhalangan, kan saya susah. Apalagi dia harus mengikuti saya ke berbagai kota, kasihan.
Kalau di setiap perusahaan saya ada istri kan jadi mudah, sehingga supaya lebih efisien dan optimal, makanya mereka menjadi pengelola atau manajer di perusahaan tersebut.
Nurul: Jadi apa alasan bapak mempunyai istri lebih dari satu? Agar istri selalu siap? Tujuannya kok sesempit itu pak?
Patrio (tersenyum): Yaaah, memang terus terang alasan saya masih sebatas kebutuhan biologis. Belum seperti Rasulullah.
Nurul: Pada awal pembicaraan tadi bapak menyebutkan alasannya Sunnah Rasul bukan?
Patrio (tersenyum sedikit, matanya melihat ke arah meja): Ya . . . memang belum sih.
Nurul: Jadi bapak mengkoreksi bahwa bapak berpoligami sebenarnya bukan karena Sunnah Rasul ya? Tapi masih sebatas kebutuhan biologis?
Patrio (tersenyum): . . . Yaah, saya kira fitrahnya laki-laki memang kebutuhan biologisnya seperti itu mbak. Saya kira normal.
Nurul: Namun kenapa yang disodorkan dahulu adalah Sunnah Rasul-nya? Kalau hanya karena kebutuhan biologis, bukan kah ini seperti merendahkan makna dari Sunnah Rasul? Saya malah berpendapatan ini semacam pelecehan pak.
Patrio: Saya tidak bermaksud demikian.
Nurul: Saya kira para poligamiwan perlu lebih bijaksana. Saya yakin jika Rasulullah masih hidup, bapak termasuk yang akan ditegur beliau.
Patrio (mencoba tersenyum, tanpa bisa berkata apa pun)
Nurul: Jadi karena bapak menganggap fitrah laki-laki itu memang kebutuhan biologisnya lebih besar, sehingga bapak begitu semangat mempromosikan poligami?
Patrio: Itu lebih baik dibandingkan selingkuh kan? Dan itukan diperbolehkan?
Nurul: Tentu saja, itu lebih baik dibandingkan selingkuh, dan saya tidak bermaksud meniupkan isyu menentang poligami. Kita tidak boleh mengharamkan yang halal. Tetapi kenapa sebagian besar para suami atau tokoh masyarakat yang melakukan poligami itu berlindung di balik Sunnah Rasul?
Patrio (kembali mencoba tersenyum)
Nurul: Rasulullah itu adalah manusia yang paling baik terhadap istrinya. Bahkan sampai urusan kecil, misalnya beliau tidak pernah mencela masakan istrinya walau dengan sindiran sekali pun. Ini kan akhlak yang lebih patut diperhatikan. Bukan hanya main comot judulnya saja yaitu poligami, tanpa melihat makna mendalam dari poligami yang dilakukan Rasulullah.
Patrio (terdiam, memandang Nurul): Jadi menurut mbak, tidak tepat jika ada alasan kebutuhan biologis?
Nurul: Bukan demikian. Itu kesimpulan yang salah. Namun ada koridornya.
Patrio: Kelihatannya saya yang sekarang harus bertanya kepada mbak Nurul, hehehe. Nggak apa-apa kan? Tidak melanggar peraturan MetrominiTV?
Nurul: Tidak apa. Mau tanya apa pak Patrio?
Patrio: Ya yang tadi itu, koridor apa yang dimaksud.
Nurul: Poligami harus tetap dalam koridor untuk kebahagiaan keluarga. Baik keluarga istri tua dan istri muda. Kalau yang sekarang banyak terjadi: Istri tua sakit hati, merasa didzalimi, masuk rumah sakit karena depresi, istri tidak lagi sebahagia sebelumnya, anak-anak tak lagi merasakan kedekatan dengan ayahnya, bahkan kehilangan figur dan panutan. Sehingga singkatnya: sudah tidak ada lagi kehangatan dan kebahagiaan. Harusnya tidak demikian. Poligami seharusnya membuat mereka makin bahagia.
Patrio: Tampaknya itu tidak mudah.
Nurul: Memang benar, itu tidak mudah. Jadi jika ada yang berpoligami dengan hanya karena alasan biologis, lalu mengatakan ingin mengikuti Sunnah Rasul, apalagi menasehati istri tuanya agar bersabar karena akan menjadi penghuni surga. Ini tidak proporsional, ironis, bahkan kontra produktif dengan syiar Islam.
Patrio: Kontra produktif dengan syiar Islam?
Nurul: Ya (diam sejenak).
Tanpa ada yang berpoligami saja, orang di luar Islam kan sering melecehkan Nabi Muhammad sebagai orang yang gila perempuan, masya Allah.
Kita tak bisa pungkiri, orang Islam yang belum mengerti kan masih banyak, dan mereka yang belum mengerti ini sering menyaksikan episode yang yang menggetirkan. Ustad atau tokoh yang semula disegani akhirnya terpuruk, dalam arti ditinggalkan oleh masyarakat, atau masyarakat kecewa, karena dia dan keluarganya tidak lagi bisa dijadikan panutan.
Patrio: Bukankah mereka juga menjelaskan juga kepada masyarakat?
Nurul: Apa yang mereka lakukan lebih utama dari pada yang mereka ucapkan, karena yang mereka ucapkan terasa lebih sebagai mencari pembenaran.
Jadi alih-alih para tokoh Islam menjelaskan tentang makna mendalam poligaminya Rasulullah, malahan mereka seakan memperburuk image tentang hal ini.
Akibatnya masyarakat muslim yang sebagian besar masih kurang pemahamannya, dalam arti masih perlu pembinaan, menjadi punya image yang tak baik terhadap para tokoh masyarakat tersebut.
Patrio: Tak baik bagaimana?
Nurul: Hehehe, bapak seakan hidup di atas awan, jadi tidak mendengarkan aspirasi di dunia nyata. Saya suka dengar mereka bilang “Ah ustad kan sama saja, tausiyah kemanaaa, ntar buntutnya juga poligami”.
Ini kita belum memperhitungkan image orang non-islam lho. Pasti akan lebih parah dan mengerikan. Ini yang saya maksud dengan kontra produktif dengan syiar Islam.
Patrio (manggut-manggut perlahan, kini tanpa dihiasi senyum sama sekali)
Nurul (memandangnya dengan muka serius, dan tampak sedikit gusar karena gemas, terutama setelah menjelaskan masalah kontra produktif).
Nurul (mencoba menenangkan diri): Gimana pak ada pertanyaan lain?
Patrio: Yaaah, mungkin sementara cukup.
Nurul dan Patrio berdiam diri dengan canggung.
Nurul (kembali tersenyum): Baik . . . emmm . . . (Nurul melirik ke arah kanan kamera, tampaknya ada yang memberinya kode)
Nurul: Baik mungkin kita istirahat sejenak (Nurul menggeser badannya dan menghadap ke kamera pemirsa)
Para pemirsa MetrominiTV yang kami hormati, sampailah kita pada akhir dari perbincangan ini, namun sebelumnya kita akan jeda kembali sejenak.
Jangan kemana-mana karena kami akan segera kembali.
Patrio (menyela): Kalau pemirsa mau ke toilet dulu tentu boleh kan mbak?
Nurul (tertawa): Hahaha, tentu, tentu saja boleh . . .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar