Rabu, 15 Maret 2017

Nombré bin Nomé

Saya dulu punya murid, bernama Fulan Syahid. Saya sempat bertanya kepadanya apa ada sejarah atau latar belakang tertentu sehingga bapaknya memilih nama itu.
Nama “Fulan” memang ganjil, karena fulan digunakan sebagai “anonymous person” atau “unidentified people”.
Fulan bin Fulan Al-Fulani digunakan di Arab, ini seperti “John Doe” di negara Barat, atau “Mou Mou” di China.
Si Fulan, Mou Mou, atau Mr.John Doe digunakan sebagai alias dari nama sebenarnya untuk suatu alasan keamanan dan etika. “Anonymous person” digunakan saat kita tidak boleh menyebutkan nama, seperti demi melindungi korban kejahatan, alasan keselamatan diri dari saksi penting pengadilan, menghindari fitnah, dan sebagainya.
Sehingga di China tidak ada yang bernama Mou Mou, tidak ada John Doe atau Jean Doe di Amerika, juga tidak ada yang bernama Fulan, Fulani atau Fulanah di Arab.
Tetapi di Indonesia? Kayaknya ini negeri yang unik, segala mungkin terjadi, dan segalanya mungkin ada disini.

Kembali ke murid saya si Fulan Syahid, saat mengabsen di depan kelas, saya masih penasaran, saya tanya lagi: “Panggilannya apa?”. Saya bertanya begitu karena saya merasa lucu memanggil dia “Fulan”, mending saya panggil “Syahid”.
Dia menjawab sambil tersipu: “Ipul, pak.”
Saya pun lega, ok “Ipul” ini jauh lebih baik daripada saya memanggil “Fulan”.

Bicara tentang nama yang ganjil, sebenarnya ada banyak nama aneh yang beredar di muka bumi ini.
Ada seorang berkebangsaan Amerika Serikat bernama “Byron Low Tax Looper”. Saya tak yakin apakah orang tua dari Byron bermaksud agar anaknya menjadi orang miskin saja sehingga tidak terbebani harus bayar pajak yang tinggi.

“Depressed Cupboard Cheesecake” adalah nama anak sepasang suami istri dari Kent, Inggris. Kalau saja suami istri ini punya alamat email, saya akan menanyakan apakah “Depressed Cupboard Cheesecake” punya abang atau adik yang bernama “Devil’s Foot Cake”,  “Low Fat Tiramisu Frozen Cake”, “Roti Keju Isi Pisang”, dan sebagainya.

“Ten Million " adalah nama seorang pemain bisbol di tahun 1910-an. Dia masih beruntung tidak dinamai “10 million”, karena ada orangtua di Eropa yang memberi nama anaknya
“4 real” namun ditolak pengadilan sehingga akhirnya hanya bernama “real” saja.

“Anakku Lelaki Hoed”, merupakan anak pertama Melly Goeslaw. Saya kepikir, bagaimana nanti saat Anakku menikah. Si orang tua calon istrinya akan mengatakan “Saya nikahkan anakku Fulani dengan Anakku Lelaki. . .” apa tidak bingung orang yang mendengarkannya.

“Gempur Soeharto”, nama yang diberikan oleh Heri Akhmadi kepada anaknya saat aktifis 78 ini diusir oleh Rezim Soeharto dan akhirnya tinggal di Amerika. Apakah penamaan ini sebagai pelampiasan rasa dendam atau sebagai bentuk perlawanan di pengasingan? Kita tidak tahu.
Namun saya sempat berpikir, seandainya Presiden Soeharto insaf, lalu melakukan reformasi besar-besaran, meminta maaf dan memanggil pulang semua lawan politiknya, lalu mengangkatnya sebagai Menteri. Kita bisa berandai-andai, mungkin nama anaknya tersebut akan diganti menjadi “Dukung Soeharto”.

Seorang aktivis PETA (People for the Ethical Treatment of Animals), Karin Robertson mengganti namanya pada tahun 2003 menjadi “Goveg.com” (diucapkan Go Vedge Dot Com atau "hiduplah sebagai vegetarian"). Hal ini dilakukan untuk mempromosikan situs organisasinya yang mengkampanyekan vegetarianisme.

Namun nama yang paling aneh adalah “Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116”, yaitu nama yang diberikan kepada seorang anak oleh orangtuanya, sebuah keluarga Swedia pada Mei 1996. Nama ini ditolak oleh pengadilan Swedia, lalu orang tuanya mengganti menjadi “A” (dipanggilnya Albin), tetapi nama ini pun ditolak pengadilan.

Jika membicarakan makna dari nama, biasanya orang akan selalu mengutip apa yang dikatakan William Shakespeare, seorang pujangga di abad pertengahan. Ungkapan “Apa arti sebuah nama” yang diucapkan William Shakespeare ini demikian populer.
Saya yakin kalau Shakespeare orang Jawa atau orang Islam tidak akan melontarkan ungkapan tersebut.
Nama bagi orang Jawa itu punya arti yang sangat penting, bahkan seorang etnis Jawa mengganti nama dengan tujuan tertentu itu adalah hal yang lumrah.
Bapak saya semula bernama “Bekti Sastromardjojo”, namun karena sakit-sakitan, sehingga nama depannya diganti menjadi “Waloejo” yang mengandung pengertian “Sehat, selamat, atau sembuh”.

Ada orang yang bernama “Bayu Geni”. Bayu artinya angin, Geni artinya api. Namun si anak kesehatannya buruk, tidak berprestasi, mudah depresi, dan sebagainya. Menurut orang-orang tua ini akibat dia “kaboten jeneng” (keberatan nama), sehingga namanya diganti menjadi yang lebih “lunak” dan tidak membebani si anak.
Bagi orang Jawa, khususnya orang-orang dulu, ada nama-nama dasyat yang harus hati-hati memberikannya karena jika secara mental dan fisik tidak sesuai dengan si anak, maka akan terjadi “kaboten jeneng”. Nama-nama yang mengandung resiko tersebut misalnya: Adi, Guntur, Gempur, Geni, Pamungkas, dan sebagainya.

Presiden kita yang pertama, dulu bernama “Koesno” bukan “Soekarno”. Begitu dipanggil menggunakan “Bung”, maka menjadi masalah karena yang bersangkutan merasa panggilan tersebut tidak sesuai dengan karakternya. “Bung Koesno” sama dengan pengucapan “bungkusno” yang artinya “bungkuskan” (wrap it, please).
Beliau merasa ini tidak sesuai dengan sifatnya yang sangat terbuka, tidak cocok dengan obsesi dan cita-citanya yang penuh semangat dan pemikiran besar. Sehingga Bung Koesno ini mengganti nama menjadi Soekarno dengan panggilan “Bung Karno” (bongkarkan).  Tetapi apakah penggantian nama ini ada hubungannya dengan keberhasilan Bung Karno sebagai orator ulung dan negarawan yang disegani di seantero dunia?, entah juga.

Bicara tentang Koesno, mengingatkan saya pada Pak Kusmayanto Kadiman. Beliau ini dosen saya di ITB sewaktu mahasiswa dulu, bekas boss saya di kantor, mantan Rektor ITB, dan pernah menjadi Menteri Ristek-nya SBY. Pak Kus, demikian saya memanggilnya, pernah cerita bahwa dia sejak dulu tidak mau masuk dan tidak akan pernah mau menjadi pembina Pramuka, karena di Pramuka panggilan baku untuk senior tidak menggunakan kata ‘Pak’ atau ‘Mas’ tetapi ‘Kakak’ atau ‘Kak’.
Pak Kusmayanto tidak mau ia dipanggil ‘Kak Kus’.

Di kantor saya yang dulu, ada Kepala Staf bagian Perawatan mesin yang bernama Satiman, beliau kini sudah almarhum. Kami biasa memanggil beliau ‘Bang Satiman’. Namun dia sering mewanti-wanti agar selalu memanggil namanya dengan lengkap, supaya dia tidak digebukin orang atau ditangkap polisi.

Jika Anda pernah membaca cerita tentang suku Indian, misalnya “Winnetou”, Anda akan menemui nama-nama khas suku Indian, seperti “Iltschi”, ini adalah nama kuda Winnetou yang  berarti Angin. Dalam kisah yang lain kita bisa menemui nama seperti “Beruang Merah”, “Bison Terluka”, “Si Muka Pucat”, dan sebagainya.

Di negara Barat sendiri, bisa kita jumpai nama benda, sifat, atau tempat diberikan sebagai nama orang. Misalkan beberapa nama yang terlibat di dunia film (sebagai aktor, sutradara, produser) : Paul Greengrass, Will Hunting, Julian Sands, Rob Brown, Ryan Hurst (Hurst = hutan kecil), Tamara Hope, Goldsmith (tulang emas), Terry Illman, John Hurt, dan sebagainya.
Nama “John” termasuk nama pasaran di Amerika atau Inggris, seperti halnya nama “Ivan” di Rusia. John atau Ivan berasal dari bahasa Ibrani, dan bermakna sama, yaitu “anugerah Tuhan yang paling indah”. Lalu jika ada yang bernama “John Hurt”, mungkin ini dianggap lucu oleh orang Timur pada umumnya yang tidak akan menamakan anaknya dengan nama yang tidak bermakna “sehat atau selamat”. Meskipun saya pernah punya teman sekelas di SMP yang bernama “Prihatini Ekawati”, mungkin saja waktu orang tuanya melahirkannya dalam kondisi yang sedang susah dan sulit.
Melihat dua contoh terakhir nama Barat dengan konteks ini, yaitu Terry Illman dan John Hurt, tampaknya John Hurt tidak sama dengan Terry Illman. Terry Illman bukan orang yang sakit-sakitan. “Terry” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “pengawal”. Jadi jika ada orang bernama Terry Illman berprofesi sebagai dokter atau perawat, ini sesuai dengan namanya.

Ada nama di Barat yang setipe dengan nama “Paul Greengrass” atau “Ryan Hurst”, yaitu “Bruce Greenwood”. Bruce (dari bahasa yunani) artinya “dari semak belukar”. Jadi si tuan Bruce Greenwood ini hampir senasib dengan Natalie Wood, yang mudah ditebak dari namanya, dia lahirnya di tengah hutan.
Beberapa contoh lain nama di Barat yang mengandung nama benda atau sifat:
Gary Oldman (tidak ada informasi apakah nama ini diberikan sejak dia muda), Jude Law, Michael Judge (mungkin bapaknya seorang Lawyer), Sean Young (kalau di negara kita ini semacam nama Joko atau Jaka, walau sudah menikah dia tetap “perjaka” atau walau sudah nenek-nenek namun diharap tetap awet muda), dan sebagainya.
Di Barat pun ada semacam nama Sumarno (laki) dan Sumarni (perempuan), atau Mulyanto dan Mulyani, yaitu Andrew (berarti jantan) dan Andrea (artinya punya sifat kewanitaan).

Nama-nama yang ada di suku Indian, dan beberapa nama di Barat tersebut ada juga kemiripannya di salah satu suku di negara kita yaitu Batak, yaitu dalam hal mengkaitkan nama dengan suatu benda, tempat, atau peristiwa yang dijumpai orangtuanya saat dia lahir.
Hutapea mempunyai arti tempat yang memiliki mata air, Hutagaol (daerah yang memiliki banyak sekali tanaman pisang), atau Lumbantoruan (berasal dari kampung yang terletak di dataran rendah).
Ada juga yang berpatokan dari kedudukan atau urutan persaudaraan dalam keluarga, seperti Siahaan (yang artinya Abang), Siagian (adik), atau kalau ada yang bernama Silitonga, pasti dia punya adik dan punya kakak karena artinya “tengah”.

Yang menarik memang nama-nama Jawa, karena suku Jawa diakui merupakan salah satu suku dengan kebudayaan yang tinggi, penuh dengan perlambang, tatakrama, unggah-ungguh yang rumit, namun mengandung makna yang mendalam.
Seorang Jawa yang masih memahami makna sebuah nama, tentu akan memilih nama yang baik untuk anak-anaknya.
Saya mempunyai teman bernama: Eko Priyo Pratomo, Eko artinya satu berarti orang yang bernama Eko pasti anak pertama, Priyo = pria, jadi Eko Priyo Pratomo adalah: anak sulung laki-laki yang utama. Pratomo tidak hanya mempunyai pengertian “pertama”, namun juga bermakna “utama”, “penting”, “paling ulung”, dan sebagainya.

Saya sendiri mempunyai nama agak panjang, dan memang ini menjadi ciri khas orang Jawa, panjang dan mungkin tidak praktis pada jaman sekarang:  Epsi Budihardjo Ananto Subekti.
“Epsi”, ini bukan nama Jawa, namun diambil dari abjad Yunani “epsilon”, yang merupakan abjad ke-5, artinya saya anak kelima. Budihardjo: Budi=baik hatinya, sedangkan “Hardjo” kata bapak saya artinya indah, bagus, enak dipandang, rupawan, namun kalau lihat di kamus artinya ”selamat, sehat, sentosa”.  Ananto=anak laki-laki, Subekti=berbakti (kepada orang tua). Jadi kalau diterjemahkan bebas: Epsi itu orang yang baik, sehat/rupawan, dan berbakti kepada orang tua.
Ada kesan narsis kalau saya yang menjelaskan artinya. Namun ini kan harapan atau doa orang tua kepada saya sebagai anaknya.
Jika ternyata saya orangnya bejat, suka menyakiti orang lain, boro-boro ganteng atau malah sakit-sakitan, dan durhaka kepada orang tua, na’udzubillah, ya masih patut disyukuri juga namanya seperti itu, kalau bukan bernama Budihardjo, mungkin saya lebih parah dari sekarang, hehehe...
Seperti halnya teman anak saya ada yang bernama “Salsabila”. Ini nama dari Arab yang artinya mata air surga, tetapi katanya dia bukan anak yang baik dijadikan teman, sifatnya “geuleuh”, dan sebagainya. Ya ini tetap harus disyukuri sudah punya nama tersebut karena kalau tidak, mungkin sifatnya lebih parah lagi.
Dalam bahasa Arab atau nama muslim, dikenal juga Haifa (perempuan yg langsing), Maisun (berwajah dan bertubuh indah), atau Rasyiqah (bentuk tubuh yg indah).
Jika Anda mempunya teman bernama Haifa, Maisun, dan Rasyiqah, yang bertubuh gemuk, mblekenek, badak enjum, dan sebagainya, ya.. masih harus disyukuri juga bukan?

Ada banyak nama di Jawa yang berarti indah, bagus, cantik, harum, dan sebagainya. Diantaranya adalah:
Maryanti, Indri, Laksmi, Ayu, Raras, Kirana, Tyas, mempunyai arti sama yaitu cantik.
Ini sama dengan nama-nama perempuan muslim, seperti: Bahirah, Husniyah, Hisanah, Jamilah, Malihah , yang artinya indah, elok, cantik.
Rahayu hampir sama dengan Harjo namun untuk wanita, yaitu selamat, sehat, rupawan.
Edi, berarti indah dan sedap dipandang. Mungkin ini bermakna sama dengan nama dari Celtic: Kent atau Kenny yang berarti tampan.
Budi biasanya diberikan untuk anak laki-laki, jika untuk perempuan diberi nama Arisanti (berhati lemah lembut), Palupi (suri teladan), atau Larasati (jujur dan sabar).
Masih kelompok nama dengan arti “kebaikan” bisa disebutkan contoh seperti Sudarmo atau kalau di suku Sunda: Sudarma (artinya “sangat bagus”), Sudarso/Sudarsa (teladan).
Untuk wanita kadang dihubungkan dengan keindahan bunga, misalnya Sekar (bunga yang indah), Ambar atau Ambarwati (wangi).
Ada juga nama-nama yang bernuansa semangat dan harapan tinggi, seperti Gatot (ulet), Gesang (hidup), Sudiro (pemberani), Gayatri (memiliki 3 kekuatan), atau Harimurti (sinar matahari).
Kadang ada nama yang secara keseluruhan punya “nilai tinggi” dan “berat”, seperti anak seorang keponakan: “Ajeng Anindia Hapsari”. Ajeng (sebutan hormat utk wanita), Anindya (sempurna tak bersalah), dan Hapsari (Apsari=bidadari).

Memang umumnya makna dan arti nama-nama ini masih dimiliki orang tua kita, sedangkan saat ini kita akui kenyataannya mulai luntur. Mereka lebih menyukai nama-nama yang berbau Barat. Kita lihat ada suatu generasi dimana banyak sekali yang bernama Kevin. Lalu nama-nama seperti David, Sherly, Nadia, Claudia, Clara, Thomas, Melanie, dan berbagai nama Barat menjadi demikian populer. Saya tidak tahu apakah mereka tahu arti dari nama-nama Barat tersebut, atau jangan-jangan hanya main comot karena orang tuanya mengidolakan tokoh, artis, atau selebriti yang mempunyai nama tersebut.
Nama Thomas itu artinya “si kembar”. Claudia (latin) artinya “si pincang”,dan Melanie (yunani) artinya “penuh kegelapan”.

Masih bagus jika mereka menggabungkan dengan nama yang lebih bermakna, misalkan “Kevin Rangga Bagaskara”. Rangga=perisai, Bagaskara=gunung. Ini nama hebat, “Kevin” dari bahasa Celtik yang artinya lemah lembut dan ramah. Jadi orang yang bernama “Kevin Rangga Bagaskara” adalah orang yang kuat, punya keteguhan hati, namun ramah dan berhati lembut, kira-kira arti “sok tahu” saya begitu.
Namun sejauh ini saya belum menemui ada nama Kevin yang dihubungkan dengan nama Jawa yang bermakna, karena mungkin tampak menjadi kurang keren.
Selain itu banyak orang Jawa pada jaman sekarang yang sudah memberi nama anaknya dengan nama-nama “modern”, kadang dihubungkan dengan bulan kelahiran, seperti: Januar Prasetyo Aji, Dewi Febrianti, Meita Ambarwati, Aprilianto Pratomo, Yuni Widowati, Agus Sudarmo, Septiani Wulandari, Oktavianus Hudioro, Novriadi, Desianti, dan sebagainya.

Ada beberapa keluarga yang nama anak-anaknya tematik, seperti anak-anaknya Bung Karno: Guntur, Guruh, Bayu, Megawati, Taufan (almarhum), dan sebagainya. Hanya saja ada satu anaknya yang agak melenceng dan beda sendiri, yaitu Sukmawati.
Mungkin karena nama-nama seperti Gemuruh, Halilintar, Gledek, Petir, Kilat, terasa ganjil untuk nama orang bukan?.
Salah satu kakak saya yang laki-laki adalah pemusik, dan nama anak-anaknya juga tematik. Anak yang pertama bernama “Langgam Bagas Pratomo”. Langgam (nyanyian), Bagas (sehat, tegap, kuat), Pratomo (pertama, utama, paling ulung). Adiknya “Laras Dwinastiti”. Laras (salah satu format nyanyian),  Dwi (dua), Nastiti (prigel, terampil).
Kakak dan adik saya punya teman dari keluarga yang sama, dimana orang tuanya memberi nama anak-anaknya dengan nama-nama gunung di Indonesia: Agung, Batur, Rinjani, Semeru, dan Wilis.
Rinjani teman kakak tertua saya, sedangkan Batur teman sekelas adik saya yang perempuan. Nah, ada sedikit masalah dengan yang namanya Batur. Kami berpendapat bapaknya kurang bijak memberi nama dia dengan nama gunung yang ada di Bali tersebut. Karena “batur” dalam bahasa Jawa artinya “pembantu”, apalagi mereka memang orang Jawa. Mungkin lebih baik dia diberi nama “Tangkuban Perahu” saja sekalian.

Tujuh belas tahun lalu, seorang teman di kantor menjadi ayah, dan dia memberi nama depan anak lakinya “Oryzandi”. Saya menduga mungkin dia ingin nama anak-anaknya kelak diberi nama tematik juga, yaitu nama latin tumbuh-tumbuhan. Oriza Sativa adalah nama latin dari padi.
Waktu syukuran bayinya saya menggodanya, “An, mengapa nama anakmu Oriza bukan Gnetum Gnemon?”. Para hadiran pun tertawa terbahak, namun  ada yang bingung apa yang lucu. Yang tampak bingung tentu tidak ingat pelajaran SMP, bahwa Gnetum Gnemon adalah nama latin dari emping alias melinjo.
Andika, teman saya itu ingin anaknya seperti padi (ilmu padi), tidak sombong, makin berisi, makin merunduk, makin berilmu, makin santun dan rendah hati. Tentu saja nama “Gnetum Gnemon” tampak kurang keren, selain tidak dikenal adanya ilmu melinjo, malah nanti dibenci orang terutama para penderita asam urat.

Anak lelaki saya sendiri diberi nama campuran nuansa Islam dan Jawa: “Raihan Budiwaskito”. Raihan mempunyai arti “rejeki” dan juga salah satu nama “pintu surga”. Namun arti harfiah ‘Raihan’ dalam bahasa Arab kalau tidak salah adalah tumbuhan yang harum baunya.
Waskito artinya bermata batin tajam, waspada, cermat, dan berhati-hati.
Nama “Budiwaskito” ini diberikan oleh ayah saya.
Dia berwejang: Saya ini (yaitu bapaknya Raihan) termasuk orang yang kurang berhati-hati, kurang cermat, kurang waspada, sehingga satu-dua kali mengalami celaka di jalan.
Bapak saya memberi nama “Budiwaskito” maksudnya: selain mempunyai arti anak yang baik, bermata batin tajam dan waspada, juga mempunyai arti: Raihan itu adalah anaknya Budi yang lebih waspada (tidak seperti bapaknya yang suka sembrono).

Sedangkan anak saya yang perempuan diberi nama dengan unsur campuran melayu dan Islam: “Rianti Puti Ramadhani”.
“Rianti” itu nama yang diberikan oleh Ibu, dengan alasan beliau pernah mempunyai murid yang bernama Rianti yang anaknya baik, cantik, dan pintar. Tapi dari segi arti harfiah, saya belum menemukan arti kata “Rianti” dari sudut semantik bahasa. Namun kalau mau “maksa dikit”, Rianti terdiri dari Ria dan Anti, Ria = riang gembira, Anto = anak laki, karena perempuan jadi Anti, jadi Rianti diterjemahkan secara “semua gue” adalah: Anak perempuan yang selalu riang, ceria, dan gembira.
“Ramadhani” karena lahirnya saat bulan Ramadhan.  Sedangkan “Puti” dari bahasa melayu yang artinya puteri raja yang cantik jelita, kulitnya putih dan bersinar. Ini agak mirip dengan nama Jawa “Ratih” yang artinya bidadari atau nama bidadari.
Munculnya nama “Puti” sebenarnya tidak lepas dari kenangan pribadi juga.
Waktu aktif di Salman dahulu, saya pernah tertarik pada seorang gadis anak SMA yang juga aktif di Salman yang bernama Puti. Dia memang cantik jelita, kulitnya putih, bahasanya sangat santun, walau pakai kerudung, aura kecantikannya menyebar ke segala penjuru. Kalau bicara dia tak pernah berlama-lama menatap wajah ikhwan yang mengajaknya bicara, bahkan saat berjalan di keramaian dia tak menoleh-noleh atau matanya jelalatan. Ia hanya berjalan, dengan mata lurus ke depan atau melihat ke bawah. Benar-benar anggun, namun karena itu pula saya tak punya nyali sama sekali untuk mendekatinya.
Saya merasa beda level. Ia seperti gelas kristal yang sangat bersih dan indah. Saya seperti rakyat jelata penuh dosa, sedangkan dia bidadari dari khayangan.

Kalau saya agak maksa mengartikan kata “Rianti”, sebenarnya banyak orang yang memang melakukan “improvisasi” dengan nama, dan ini sah-sah saja. Mereka melakukan “othak-uthik gathuk” (dicocok-cocokin, disambung-sambung), dan yang enak diucapkan dan bagus dirangkaikan.
Nama anak-anak adik saya di antaranya: “Wirestu Sekar Andhani”. Wirestu dari kata restu (doa/berkat) dan dipantes-pantes dengan tambahan “Wi”.
Sekar = bunga yg harum, sedangkan Andhani dari kata Andani (patut, penurut).
Adik Wirestu bernama “Nanindra Kinan Hapsari”. Kinan dari kata bahasa Arab “Kinanah” (tempat anak panah), Hapsari dari Apsari (bidadari).

Seperti halnya hakekat nama Jawa yang penuh makna dan mengandung harapan. Bagi seorang muslim, nama juga penting karena memang Islam mengajarkan kita harus memberikan nama yang baik.
Di awal tulisan saya mengatakan: Kalau Shakespeare orang Jawa atau orang Islam, maka dia tidak akan melontarkan ungkapan “Apalah artinya sebuah nama”.
Kenapa?. Karena dia akan keberatan jika diberi nama “Joko Saru”, “Eko Wandu Winoto”, atau “Sutejo Durjono”, karena Saru=jorok/cabul, Wandu=bencong/banci, dan Durjono=jahat sekali (sekarang sudah diserap menjadi bahasa Indonesia: durjana).
Atau jika Shakespeare menjadi mualaf, dia pasti akan keberatan jika diberi nama “Ahmad Munafikun” atau “Abu Kafirun”.

“Nama yang baik” mempunyai pengertian yang luas, selain mengandung unsur doa, dan syi’ar agama, juga diperlukan faktor kearifan/kebijakan. Artinya aspek harapan, doa, dan syi’ar sebenarnya belum cukup.
Dan pertimbangan bahwa harus “arif dan bijak”sebenarnya bukan hanya untuk nama Jawa atau Islam, namun untuk nama umum yang lain.
Mengapa harus bijaksana? Karena orang tua mungkin punya obsesi tertentu, namun harus dipikirkan bagaimana anaknya akan menanggung nama tersebut sepanjang hidupnya.
Nama seperti “Gempur Soeharto”, “Anakku Lelaki Hoed”, “Laksamana Sukardi”, “Senator Nur Bahagia”,  “Pahlawan Eka Putra” adalah nama-nama yang bisa menyulitkan yang bersangkutan.
Pahlawan adalah salah satu murid saya, dia mungkin merasa “kaboten jeneng” menyandang nama pahlawan. Laksamana Sukardi adalah seorang pebisnis yang sukses dan juga pernah aktif di suatu partai besar. Laksamana mungkin merasa canggung kalau dia memilih karier di Angkatan Laut, karena akan rancu, saat menjadi kadet sudah menyandang pangkat Laksamana.
Dr.Ir. Senator Nur Bahagia adalah salah satu dosen di ITB, mungkin lebih baik dia memilih sebagai dosen daripada karier di bidang politik.
Seorang politikus India ada yang bernama “Adolf Lu Hitler Marak”. Ini sangat tidak lazim, dan patut kasihani karena orang tahu siapa Hitler itu. Seperti halnya tidak akan ada orang Islam yang memberi nama anaknya Abu Jahal, Abu Lahab, atau Salman Rushdie karena mereka orang-orang yang menentang Islam. Padahal Salman itu artinya “yang selamat”, Rusydi = penunjuk jalan yg lurus. Namun karena perilakunya, kombinasi nama Salman Rushdie menjadi tercemar, sehingga orang akan membuat kombinasi nama yang lain misalnya: Salman Paris Siregar, dan Ahya Rusdi. Keduanya teman saya di ITB.
Mungkin saja Salman Paris hasil improvisasi dari “Salman Al-Farisi”, seorang sahabat Nabi Muhammad yang berasal dari Persia. Dikalangan sahabat ia dikenal sebagai Abu Abdullah. Salman Al-Farisi menjadi pahlawan saat membuat ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam pertempuran Khandaq.

Sama halnya dengan Adolf Hitler atau Salman Rushdie, saat ini mungkin tidak ada orang tua yang mau memberi nama anaknya dengan nama Ariel atau Gayus.
Dulu jamannya tabloid TV yang pertama muncul, yaitu Monitor, orang-orang terutama ibu-ibu sangat menggandrungi tabloid ini. Saya pernah baca di rubrik pembacanya ada seorang ibu yang baru melahirkan anaknya dan dengan sukacitanya memberi nama “Monitor”. Tidak terbayang dia akan menyandang nama Bapak Monitor. Kalau dia punya gelar: dr.Monitor, Prof.Monitor, ini sungguh nama yang ganjil.
Juga teman adik saya yang bernama Batur. Dia berusaha untuk tidak bekerja di Jawa Tengah atau Jawa Timur karena dikira orang dia menjadi pembantu seumur-umur. Masih mendingan dia hidup di Jawa Barat karena batur disini artinya teman.
Apalagi orang yang bernama “Depressed Cupboard Cheesecake” dan “Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116”, bisa dibayangkan menderitanya, baik yang bersangkutan, maupun orang yang ingin memanggilnya.
Ada juga teman saya yang memberi nama anaknya “ilman” (berilmu), namun dia harus secara total melengkapi nama anaknya dengan nama bernuansa Islam untuk menghindari kesan anaknya didoakan menjadi orang yang kurang sehat atau sakit-sakitan.
Demikianlah alasan mengapa memberi nama harus dengan pertimbangan kebijakan dan kearifan.

Tentang kesulitan dalam memanggil nama, saya mempunyai tetangga sebelah rumah yang bernama depan “Eugene”, dan juga nama teman anak saya: “Genevieve”. Walau tidak separah memanggil “Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116”, namun Eugene dan Genevieve membuat guru yang akan mengabsen di kelas atau petugas apotek yang akan memanggilnya kebingungan cara melafalkannya dengan benar.
Orang awam seperti petugas apotek atau guru yang tidak fasih berbahasa inggris bingung mengucakan Eugene, bisa diucapkan “eugèn” atau “egèn”, atau jika diucapkan orang kita yang umumnya familiar dengan bahasa inggris akan memanggilnya “yujin” atau “ejin”.
Padahal dalam bahasa perancis, Eugene yang ditulisnya Eugène akan dibaca Uzèn, tentu dengan pengucapan yang khas perancis.
Juga untuk “Genevieve” orang yang bisa memanggilnya jenefif, jènèfif, atau jènif, karena orang lebih biasa mendengar kosa kata inggris. Dan memang saat saya tanya ke anak perempuan saya, si teman Genevieve itu dipanggilnya “Jènif”. Genevieve di Amerika memang sama dengan Jennifer. Namun si orang tuanya memberikannya nama Perancis tentu ada maksudnya, karena mungkin saat anaknya lahir dia sedang menyelesaikan S3-nya di Université de Toulouse. Sehingga jika susah-susah diberi nama Perancis lalu karena tak mau repot lalu melafalkannya kembali ke english like “Jènif”, ya sayang juga. Genevieve harusnya diucapkan “jenefief”.

Ada beberapa nama Perancis beredar di negara kita ini, misalnya “Pierre” dibaca “piahr” , “Eugène Dubois” (uzèn duboa), juga “Bordeaux” (bokhdhu).
Pasar swalayan franchise (waralaba) dari Perancis Carrefour banyak disebut orang dengan lafal Inggris “kerfor” atau “kerfur” seharusnya “kerh-fu”. Merk mobil Peugeot diucapkan “pisyut” harusnya “pèzo”, Citroen diucapkan “sitrun”, aslinya diucapkan “sitro”, sekali lagi tentu diucapkan dengan khas pelafalan perancis yang banyak menggunakan suara hidung. Suku kata “tro” dari “Citroen” diucapkan dengan suara hidung yang sangat kental. Tentu kental suara hidungnya bukan ingusnya.
Kasus dengan bahasa lain: “Albert Einstein” adalah orang Jerman sehingga mengucapkan “Einstein” adalah “Ainstain”.
Dengan segala hiruk-pikuk pelafalan nama yang menggunakan bahasa selain “english like”, jadinya terlihat repot atau merepotkan orang lain. Sehingga secara pribadi saya kurang sependapat dengan penamaan yang membuat situasi “serba salah” tersebut, atau biarkan masyarakat mau membaca dengan cara apapun sesuai interpretasinya, misal kalau petugas apotik orang Sunda asli lalu memanggil Eugene dengan “eugèn” dimana “eu” seperti mengucapkan “euweueh” ya dilarang protes atau marah.

Jika kita membaca perbendaraan nama-nama Islam memang artinya bagus dan indah-indah. Di negara kita memberi nama bernuansa Islam memang sudah lumrah, namun banyak pula yang tidak paham aturan pemberian nama tersebut. Misalnya nama-nama yang makruh diberikan seperti memberi nama anak dengan nama Surat Al Quran seperti Yasin, nama malaikat misalnya Mikail, atau nama-nama yang memang diharamkan, seperti nama-nama yang mempunyai arti penghambaan selain Allah, seperti: Abdur Rasul (hambanya rasul), Abdul Husain (hambanya Al Husain), Abdusy Syams (hambanya matahari), dan sebagainya. Saya mengambil contoh Yasin dan Mikail karena saya sendiri punya kawan yang bernama “Muhammad Yasin”, dan “Mikail”.

Juga banyak nama orang di Indonesia yang mengambil dari Asmaul Husna, seperti Rahman, Malik, Aziz, Ghaffaar, Halim, Kariim, Hakim, Hamid, Wahid, Nur, Rasyid, dan sebagainya.
Untuk penggunaan nama yang diambil dari Asmaul Husna tidak diperbolehkan kecuali diikuti dengan ‘Abdu (hamba). Jadi sebenarnya tidak boleh memberi nama dengan nama-nama Allah tanpa diikuti dengan Abdu, seperti “Rahman Saepudin”, “Muhammad Aziz”, “Adam Malik”, tetapi seharusnya “Abdurrahman” (hambanya yang Maha Pengasih), “Abdul Aziz” (hambanya Yang Maha Mulia), “Abdul Malik” (hambanya yang Maha Merajai/Memerintah), dan sebagainya.

Beberapa nama Islam kadang mempunyai dialek yang berbeda karena pengaruh lokasi geografis, misalnya: Husen, Hussain, dan Hossein yang artinya sama yaitu bagus, baik.
Iqbal (kejayaan, kedatangan, kemujuran), Anwar (cahaya-cahaya), Amin (yang dipercaya),  Auliya (para pelindung), masing-masing mempunyai dialek berbeda di negara seperti Turki, yaitu Eqbal, Enver, Emin, dan Evliya.

Nama bagus yang dipilih, kadang juga perlu dilihat arti lain kata tersebut, atau makna pada bahasa lain yang menggunakan kata itu. Saya punya teman satu jurusan di ITB yang bernama “Emanuel S. Bledug”, nama tengah “S” saya lupa kepanjangannya namun yang jelas nama Jawa. “Bledug” mempunyai dua arti yaitu “debu” dan “anak gajah”. Saya mencandainya saat dia masih hidup, karena teman saya ini sudah meninggal: “Bledug itu karena kulitmu gelap seperti berdebu? atau waktu lahir kamu ‘mblekenek’ seperti anak gajah?”. Ternyata maksudnya ‘anak gajah’. Mblekenek adalah istilah sesuatu yang gemuk-gemuk dan montok.
Nama “Tina” dalam bahasa Yunani mempunyai pengertian “pengikut Kristus”, sehingga tampaknya tidak sesuai untuk nama seorang muslim. Walau ada juga teman saya seorang muslim yang sangat taat yang bernama “Christanto”, juga punya teman muslim bernama “Maria”, “Alexander”, dan “Josef”. Tiga nama terakhir biasanya menggunakan kata “Maryam”, “Iskandar”, dan “Yusuf”. Saya pun waktu SD pertama kali diajari sholat dan baca Iqro oleh ustadz dari Sumatera Barat yang bernama agak ganjil bagi seorang muslim apalagi ustadz: “Mohammad Yesus Thaif”.
Namun saya juga punya dua tetangga satu RT turunan Chinese yang bernama “Yusuf Chandra” (bukan Yosef Chandra), dan “Hendri Halim”.  Walau nama yang terakhir tentu Halim bukan mengambil dari Asmaul Husna tetapi dari nama asli atau nama keturunanannya (Liem).

Sedikit lagi tambahan tentang pemilihan nama kadang harus mengantisipasi jika salah ucap, walau maknanya bagus, misalnya “Murtadho” (diridhai).
Yang bernama “Murtadho” tentu tidak akan rela dipanggil “Bang Murtad” atau “Pak Murtad”.
Nama dengan tiga suku kata memang kadang orang memanggilnya dengan menyingkatnya, seperti “Wirestu” sering dipanggil oleh teman-temannya: “Wires”.
Sukarni, Sunaryo, Sukarno, jika di Jawa akan sering dipanggil sebagai Karni, Naryo, dan Karno, demikian pula dengan nama-nama yang depannya menggunakan “Su” lainnya. Tetapi orang Sumatera akan lebih menyukai menggunakan dua kata di depannya. Istri saya dari Sumatera Barat, keluarga dari pihak mertua mempunyai kerabat yang bernama Sunaryo. Mereka biasa memanggilnya “Bang Sunar” bukan “Bang Naryo”.

Memberi nama anak, bagi sebagian orang mungkin suatu hal yang menarik dan penting, sehingga dia mengupayakan dengan serius. Namun mungkin saja bagi sebagian orang lainnya itu suatu beban atau suatu kebingungan, sehingga bisa muncul kombinasi nama yang juga membingungkan atau aneh.
Tulisan ini juga mungkin membingungkan pembacanya karena mengapa judulnya “Nombré bin Nomé”. Nombré adalah Nama dalam bahasa Spanyol, sedangkan Nomé adalah Nama dalam bahasa Italia. Lalu mengapa judul artikel ini seperti itu?
Saya pun tidak tahu.


Bandung, 19 April 2011

Tidak ada komentar:

Posting Komentar