Saya dulu punya murid, bernama Fulan Syahid. Saya sempat bertanya
kepadanya apa ada sejarah atau latar belakang tertentu sehingga bapaknya
memilih nama itu.
Nama “Fulan” memang ganjil, karena fulan digunakan sebagai “anonymous person” atau
“unidentified people”.
Fulan bin Fulan Al-Fulani digunakan di Arab, ini seperti “John
Doe” di negara Barat, atau “Mou Mou” di China.
Si Fulan, Mou Mou, atau Mr.John Doe digunakan sebagai alias dari
nama sebenarnya untuk suatu alasan keamanan dan etika. “Anonymous person” digunakan saat kita tidak boleh menyebutkan nama, seperti
demi melindungi korban kejahatan, alasan keselamatan diri dari saksi penting
pengadilan, menghindari fitnah, dan sebagainya.
Sehingga di China tidak ada yang bernama Mou Mou, tidak ada John
Doe atau Jean Doe di Amerika, juga tidak ada yang bernama Fulan, Fulani atau
Fulanah di Arab.
Tetapi di Indonesia? Kayaknya ini negeri yang unik, segala mungkin
terjadi, dan segalanya mungkin ada disini.
Kembali ke murid saya si Fulan Syahid, saat mengabsen di depan
kelas, saya masih penasaran, saya tanya lagi: “Panggilannya apa?”. Saya
bertanya begitu karena saya merasa lucu memanggil dia “Fulan”, mending saya
panggil “Syahid”.
Dia menjawab sambil tersipu: “Ipul, pak.”
Saya pun lega, ok “Ipul” ini jauh lebih baik daripada saya
memanggil “Fulan”.
Bicara tentang nama yang ganjil, sebenarnya ada banyak nama aneh yang
beredar di muka bumi ini.
Ada seorang berkebangsaan Amerika Serikat bernama “Byron Low Tax Looper”. Saya tak yakin apakah
orang tua dari Byron bermaksud agar anaknya menjadi orang miskin saja sehingga
tidak terbebani harus bayar pajak yang tinggi.
“Depressed Cupboard Cheesecake” adalah
nama anak sepasang suami
istri dari Kent, Inggris. Kalau saja suami istri ini punya alamat email, saya
akan menanyakan apakah “Depressed Cupboard
Cheesecake” punya abang atau adik yang bernama “Devil’s Foot Cake”, “Low Fat Tiramisu Frozen Cake”, “Roti Keju Isi
Pisang”, dan sebagainya.
“Ten Million " adalah nama seorang pemain bisbol
di tahun 1910-an. Dia masih beruntung tidak dinamai “10 million”, karena ada
orangtua di Eropa yang memberi nama anaknya
“4 real” namun ditolak pengadilan sehingga akhirnya hanya bernama “real” saja.
“4 real” namun ditolak pengadilan sehingga akhirnya hanya bernama “real” saja.
“Anakku Lelaki Hoed”,
merupakan anak pertama Melly Goeslaw. Saya kepikir, bagaimana nanti saat Anakku
menikah. Si orang tua calon istrinya akan mengatakan “Saya nikahkan anakku
Fulani dengan Anakku Lelaki. . .” apa tidak bingung orang yang mendengarkannya.
“Gempur Soeharto”, nama yang diberikan oleh Heri Akhmadi
kepada anaknya saat aktifis 78 ini diusir oleh Rezim Soeharto dan akhirnya
tinggal di Amerika. Apakah penamaan ini sebagai pelampiasan rasa dendam atau
sebagai bentuk perlawanan di pengasingan? Kita tidak tahu.
Namun saya sempat berpikir, seandainya Presiden Soeharto insaf,
lalu melakukan reformasi besar-besaran, meminta maaf dan memanggil pulang semua
lawan politiknya, lalu mengangkatnya sebagai Menteri. Kita bisa berandai-andai,
mungkin nama anaknya tersebut akan diganti menjadi “Dukung Soeharto”.
Seorang
aktivis PETA (People for the Ethical
Treatment of Animals), Karin Robertson mengganti namanya pada tahun 2003
menjadi “Goveg.com” (diucapkan Go Vedge Dot Com atau "hiduplah
sebagai vegetarian"). Hal ini dilakukan untuk mempromosikan situs
organisasinya yang mengkampanyekan vegetarianisme.
Namun nama yang paling aneh adalah “Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116”, yaitu
nama yang diberikan kepada seorang anak oleh orangtuanya, sebuah keluarga
Swedia pada Mei 1996. Nama ini ditolak oleh pengadilan Swedia, lalu orang
tuanya mengganti menjadi “A” (dipanggilnya Albin), tetapi nama ini pun ditolak
pengadilan.
Jika
membicarakan makna dari nama, biasanya orang akan selalu mengutip apa yang
dikatakan William Shakespeare, seorang pujangga di abad pertengahan. Ungkapan
“Apa arti sebuah nama” yang diucapkan William Shakespeare ini demikian populer.
Saya
yakin kalau Shakespeare orang Jawa atau orang Islam tidak akan melontarkan
ungkapan tersebut.
Nama
bagi orang Jawa itu punya arti yang sangat penting, bahkan seorang etnis Jawa
mengganti nama dengan tujuan tertentu itu adalah hal yang lumrah.
Bapak
saya semula bernama “Bekti Sastromardjojo”, namun karena sakit-sakitan,
sehingga nama depannya diganti menjadi “Waloejo” yang mengandung pengertian
“Sehat, selamat, atau sembuh”.
Ada
orang yang bernama “Bayu Geni”. Bayu artinya angin, Geni artinya api. Namun si
anak kesehatannya buruk, tidak berprestasi, mudah depresi, dan sebagainya.
Menurut orang-orang tua ini akibat dia “kaboten jeneng” (keberatan nama),
sehingga namanya diganti menjadi yang lebih “lunak” dan tidak membebani si anak.
Bagi
orang Jawa, khususnya orang-orang dulu, ada nama-nama dasyat yang harus
hati-hati memberikannya karena jika secara mental dan fisik tidak sesuai dengan
si anak, maka akan terjadi “kaboten jeneng”. Nama-nama yang mengandung resiko
tersebut misalnya: Adi, Guntur, Gempur, Geni, Pamungkas, dan sebagainya.
Presiden
kita yang pertama, dulu bernama “Koesno” bukan “Soekarno”. Begitu dipanggil
menggunakan “Bung”, maka menjadi masalah karena yang bersangkutan merasa
panggilan tersebut tidak sesuai dengan karakternya. “Bung Koesno” sama dengan
pengucapan “bungkusno” yang artinya “bungkuskan” (wrap it, please).
Beliau
merasa ini tidak sesuai dengan sifatnya yang sangat terbuka, tidak cocok dengan
obsesi dan cita-citanya yang penuh semangat dan pemikiran besar. Sehingga Bung
Koesno ini mengganti nama menjadi Soekarno dengan panggilan “Bung Karno”
(bongkarkan). Tetapi apakah penggantian
nama ini ada hubungannya dengan keberhasilan Bung Karno sebagai orator ulung
dan negarawan yang disegani di seantero dunia?, entah juga.
Bicara
tentang Koesno, mengingatkan saya pada Pak Kusmayanto Kadiman. Beliau ini dosen
saya di ITB sewaktu mahasiswa dulu, bekas boss saya di kantor, mantan Rektor
ITB, dan pernah menjadi Menteri Ristek-nya SBY. Pak Kus, demikian saya
memanggilnya, pernah cerita bahwa dia sejak dulu tidak mau masuk dan tidak akan
pernah mau menjadi pembina Pramuka, karena di Pramuka panggilan baku untuk
senior tidak menggunakan kata ‘Pak’ atau ‘Mas’ tetapi ‘Kakak’ atau ‘Kak’.
Pak
Kusmayanto tidak mau ia dipanggil ‘Kak Kus’.
Di
kantor saya yang dulu, ada Kepala Staf bagian Perawatan mesin yang bernama
Satiman, beliau kini sudah almarhum. Kami biasa memanggil beliau ‘Bang
Satiman’. Namun dia sering mewanti-wanti agar selalu memanggil namanya dengan lengkap,
supaya dia tidak digebukin orang atau ditangkap polisi.
Jika
Anda pernah membaca cerita tentang suku Indian, misalnya “Winnetou”, Anda akan
menemui nama-nama khas suku Indian, seperti “Iltschi”, ini adalah nama kuda Winnetou yang berarti Angin. Dalam kisah yang lain kita bisa
menemui nama seperti “Beruang Merah”, “Bison Terluka”, “Si Muka Pucat”, dan
sebagainya.
Di
negara Barat sendiri, bisa kita jumpai nama benda, sifat, atau tempat diberikan
sebagai nama orang. Misalkan beberapa nama yang terlibat di dunia film (sebagai
aktor, sutradara, produser) : Paul Greengrass, Will Hunting, Julian Sands, Rob
Brown, Ryan Hurst (Hurst = hutan kecil), Tamara Hope, Goldsmith (tulang emas), Terry
Illman, John Hurt, dan sebagainya.
Nama
“John” termasuk nama pasaran di Amerika atau Inggris, seperti halnya nama “Ivan”
di Rusia. John atau Ivan berasal dari bahasa Ibrani, dan bermakna sama, yaitu
“anugerah Tuhan yang paling indah”. Lalu jika ada yang bernama “John Hurt”,
mungkin ini dianggap lucu oleh orang Timur pada umumnya yang tidak akan
menamakan anaknya dengan nama yang tidak bermakna “sehat atau selamat”.
Meskipun saya pernah punya teman sekelas di SMP yang bernama “Prihatini Ekawati”,
mungkin saja waktu orang tuanya melahirkannya dalam kondisi yang sedang susah
dan sulit.
Melihat
dua contoh terakhir nama Barat dengan konteks ini, yaitu Terry Illman dan John
Hurt, tampaknya John Hurt tidak sama dengan Terry Illman. Terry Illman bukan
orang yang sakit-sakitan. “Terry” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “pengawal”.
Jadi jika ada orang bernama Terry Illman berprofesi sebagai dokter atau
perawat, ini sesuai dengan namanya.
Ada
nama di Barat yang setipe dengan nama “Paul Greengrass” atau “Ryan Hurst”,
yaitu “Bruce Greenwood”. Bruce (dari bahasa yunani) artinya “dari semak
belukar”. Jadi si tuan Bruce Greenwood ini hampir senasib dengan Natalie Wood,
yang mudah ditebak dari namanya, dia lahirnya di tengah hutan.
Beberapa
contoh lain nama di Barat yang mengandung nama benda atau sifat:
Gary
Oldman (tidak ada informasi apakah nama ini diberikan sejak dia muda), Jude
Law, Michael Judge (mungkin bapaknya seorang Lawyer), Sean Young (kalau di
negara kita ini semacam nama Joko atau Jaka, walau sudah menikah dia tetap
“perjaka” atau walau sudah nenek-nenek namun diharap tetap awet muda), dan
sebagainya.
Di
Barat pun ada semacam nama Sumarno (laki) dan Sumarni (perempuan), atau
Mulyanto dan Mulyani, yaitu Andrew (berarti jantan) dan Andrea (artinya punya
sifat kewanitaan).
Nama-nama
yang ada di suku Indian, dan beberapa nama di Barat tersebut ada juga
kemiripannya di salah satu suku di negara kita yaitu Batak, yaitu dalam hal
mengkaitkan nama dengan suatu benda, tempat, atau peristiwa yang dijumpai
orangtuanya saat dia lahir.
Hutapea
mempunyai arti tempat yang memiliki mata air, Hutagaol (daerah yang memiliki
banyak sekali tanaman pisang), atau Lumbantoruan (berasal dari kampung yang
terletak di dataran rendah).
Ada
juga yang berpatokan dari kedudukan atau urutan persaudaraan dalam keluarga, seperti
Siahaan (yang artinya Abang), Siagian (adik), atau kalau ada yang bernama Silitonga,
pasti dia punya adik dan punya kakak karena artinya “tengah”.
Yang
menarik memang nama-nama Jawa, karena suku Jawa diakui merupakan salah satu
suku dengan kebudayaan yang tinggi, penuh dengan perlambang, tatakrama,
unggah-ungguh yang rumit, namun mengandung makna yang mendalam.
Seorang
Jawa yang masih memahami makna sebuah nama, tentu akan memilih nama yang baik
untuk anak-anaknya.
Saya
mempunyai teman bernama: Eko Priyo Pratomo, Eko artinya satu berarti orang yang
bernama Eko pasti anak pertama, Priyo = pria, jadi Eko Priyo Pratomo adalah:
anak sulung laki-laki yang utama. Pratomo tidak hanya mempunyai pengertian
“pertama”, namun juga bermakna “utama”, “penting”, “paling ulung”, dan
sebagainya.
Saya
sendiri mempunyai nama agak panjang, dan memang ini menjadi ciri khas orang
Jawa, panjang dan mungkin tidak praktis pada jaman sekarang: Epsi Budihardjo Ananto Subekti.
“Epsi”,
ini bukan nama Jawa, namun diambil dari abjad Yunani “epsilon”, yang merupakan abjad
ke-5, artinya saya anak kelima. Budihardjo: Budi=baik hatinya, sedangkan
“Hardjo” kata bapak saya artinya indah, bagus, enak dipandang, rupawan, namun
kalau lihat di kamus artinya ”selamat, sehat, sentosa”. Ananto=anak laki-laki, Subekti=berbakti
(kepada orang tua). Jadi kalau diterjemahkan bebas: Epsi itu orang yang baik, sehat/rupawan,
dan berbakti kepada orang tua.
Ada
kesan narsis kalau saya yang menjelaskan artinya. Namun ini kan harapan atau
doa orang tua kepada saya sebagai anaknya.
Jika
ternyata saya orangnya bejat, suka menyakiti orang lain, boro-boro ganteng atau malah sakit-sakitan, dan durhaka kepada
orang tua, na’udzubillah, ya masih patut disyukuri juga namanya seperti itu,
kalau bukan bernama Budihardjo, mungkin saya lebih parah dari sekarang,
hehehe...
Seperti
halnya teman anak saya ada yang bernama “Salsabila”. Ini nama dari Arab yang
artinya mata air surga, tetapi katanya dia bukan anak yang baik dijadikan
teman, sifatnya “geuleuh”, dan sebagainya. Ya ini tetap harus disyukuri sudah
punya nama tersebut karena kalau tidak, mungkin sifatnya lebih parah lagi.
Dalam
bahasa Arab atau nama muslim, dikenal juga Haifa (perempuan yg langsing),
Maisun (berwajah dan bertubuh indah), atau Rasyiqah (bentuk tubuh yg indah).
Jika
Anda mempunya teman bernama Haifa, Maisun, dan Rasyiqah, yang bertubuh gemuk, mblekenek,
badak enjum, dan sebagainya, ya.. masih harus disyukuri juga bukan?
Ada
banyak nama di Jawa yang berarti indah, bagus, cantik, harum, dan sebagainya.
Diantaranya adalah:
Maryanti,
Indri, Laksmi, Ayu, Raras, Kirana, Tyas, mempunyai arti sama yaitu cantik.
Ini
sama dengan nama-nama perempuan muslim, seperti: Bahirah, Husniyah, Hisanah,
Jamilah, Malihah , yang artinya indah, elok, cantik.
Rahayu
hampir sama dengan Harjo namun untuk wanita, yaitu selamat, sehat, rupawan.
Edi,
berarti indah dan sedap dipandang. Mungkin ini bermakna sama dengan nama dari
Celtic: Kent atau Kenny yang berarti tampan.
Budi
biasanya diberikan untuk anak laki-laki, jika untuk perempuan diberi nama Arisanti
(berhati lemah lembut), Palupi (suri teladan), atau Larasati (jujur dan sabar).
Masih
kelompok nama dengan arti “kebaikan” bisa disebutkan contoh seperti Sudarmo
atau kalau di suku Sunda: Sudarma (artinya “sangat bagus”), Sudarso/Sudarsa
(teladan).
Untuk
wanita kadang dihubungkan dengan keindahan bunga, misalnya Sekar (bunga yang
indah), Ambar atau Ambarwati (wangi).
Ada
juga nama-nama yang bernuansa semangat dan harapan tinggi, seperti Gatot
(ulet), Gesang (hidup), Sudiro (pemberani), Gayatri (memiliki 3 kekuatan), atau
Harimurti (sinar matahari).
Kadang
ada nama yang secara keseluruhan punya “nilai tinggi” dan “berat”, seperti anak
seorang keponakan: “Ajeng Anindia Hapsari”. Ajeng (sebutan hormat utk wanita),
Anindya (sempurna tak bersalah), dan Hapsari (Apsari=bidadari).
Memang
umumnya makna dan arti nama-nama ini masih dimiliki orang tua kita, sedangkan saat
ini kita akui kenyataannya mulai luntur. Mereka lebih menyukai nama-nama yang
berbau Barat. Kita lihat ada suatu generasi dimana banyak sekali yang bernama
Kevin. Lalu nama-nama seperti David, Sherly, Nadia, Claudia, Clara, Thomas,
Melanie, dan berbagai nama Barat menjadi demikian populer. Saya tidak tahu
apakah mereka tahu arti dari nama-nama Barat tersebut, atau jangan-jangan hanya
main comot karena orang tuanya mengidolakan tokoh, artis, atau selebriti yang
mempunyai nama tersebut.
Nama
Thomas itu artinya “si kembar”. Claudia (latin) artinya “si pincang”,dan
Melanie (yunani) artinya “penuh kegelapan”.
Masih
bagus jika mereka menggabungkan dengan nama yang lebih bermakna, misalkan
“Kevin Rangga Bagaskara”. Rangga=perisai, Bagaskara=gunung. Ini nama hebat,
“Kevin” dari bahasa Celtik yang artinya lemah lembut dan ramah. Jadi orang yang
bernama “Kevin Rangga Bagaskara” adalah orang yang kuat, punya keteguhan hati,
namun ramah dan berhati lembut, kira-kira arti “sok tahu” saya begitu.
Namun
sejauh ini saya belum menemui ada nama Kevin yang dihubungkan dengan nama Jawa
yang bermakna, karena mungkin tampak menjadi kurang keren.
Selain
itu banyak orang Jawa pada jaman sekarang yang sudah memberi nama anaknya
dengan nama-nama “modern”, kadang dihubungkan dengan bulan kelahiran, seperti: Januar
Prasetyo Aji, Dewi Febrianti, Meita Ambarwati, Aprilianto Pratomo, Yuni
Widowati, Agus Sudarmo, Septiani Wulandari, Oktavianus Hudioro, Novriadi, Desianti,
dan sebagainya.
Ada
beberapa keluarga yang nama anak-anaknya tematik, seperti anak-anaknya Bung
Karno: Guntur, Guruh, Bayu, Megawati, Taufan (almarhum), dan sebagainya. Hanya
saja ada satu anaknya yang agak melenceng dan beda sendiri, yaitu Sukmawati.
Mungkin
karena nama-nama seperti Gemuruh, Halilintar, Gledek, Petir, Kilat, terasa
ganjil untuk nama orang bukan?.
Salah
satu kakak saya yang laki-laki adalah pemusik, dan nama anak-anaknya juga
tematik. Anak yang pertama bernama “Langgam Bagas Pratomo”. Langgam (nyanyian),
Bagas (sehat, tegap, kuat), Pratomo (pertama, utama, paling ulung). Adiknya
“Laras Dwinastiti”. Laras (salah satu format nyanyian), Dwi (dua), Nastiti (prigel, terampil).
Kakak
dan adik saya punya teman dari keluarga yang sama, dimana orang tuanya memberi
nama anak-anaknya dengan nama-nama gunung di Indonesia: Agung, Batur, Rinjani,
Semeru, dan Wilis.
Rinjani
teman kakak tertua saya, sedangkan Batur teman sekelas adik saya yang
perempuan. Nah, ada sedikit masalah dengan yang namanya Batur. Kami berpendapat
bapaknya kurang bijak memberi nama dia dengan nama gunung yang ada di Bali
tersebut. Karena “batur” dalam bahasa Jawa artinya “pembantu”, apalagi mereka
memang orang Jawa. Mungkin lebih baik dia diberi nama “Tangkuban Perahu” saja
sekalian.
Tujuh
belas tahun lalu, seorang teman di kantor menjadi ayah, dan dia memberi nama
depan anak lakinya “Oryzandi”. Saya menduga mungkin dia ingin nama anak-anaknya
kelak diberi nama tematik juga, yaitu nama latin tumbuh-tumbuhan. Oriza Sativa
adalah nama latin dari padi.
Waktu
syukuran bayinya saya menggodanya, “An, mengapa nama anakmu Oriza bukan Gnetum
Gnemon?”. Para hadiran pun tertawa terbahak, namun ada yang bingung apa yang lucu. Yang tampak
bingung tentu tidak ingat pelajaran SMP, bahwa Gnetum Gnemon adalah nama latin
dari emping alias melinjo.
Andika,
teman saya itu ingin anaknya seperti padi (ilmu padi), tidak sombong, makin
berisi, makin merunduk, makin berilmu, makin santun dan rendah hati. Tentu saja
nama “Gnetum Gnemon” tampak kurang keren, selain tidak dikenal adanya ilmu
melinjo, malah nanti dibenci orang terutama para penderita asam urat.
Anak
lelaki saya sendiri diberi nama campuran nuansa Islam dan Jawa: “Raihan
Budiwaskito”. Raihan mempunyai arti “rejeki” dan juga salah satu nama “pintu
surga”. Namun arti harfiah ‘Raihan’ dalam bahasa Arab kalau tidak salah adalah
tumbuhan yang harum baunya.
Waskito
artinya bermata batin tajam, waspada, cermat, dan berhati-hati.
Nama
“Budiwaskito” ini diberikan oleh ayah saya.
Dia
berwejang: Saya ini (yaitu bapaknya Raihan) termasuk orang yang kurang
berhati-hati, kurang cermat, kurang waspada, sehingga satu-dua kali mengalami
celaka di jalan.
Bapak
saya memberi nama “Budiwaskito” maksudnya: selain mempunyai arti anak yang baik,
bermata batin tajam dan waspada, juga mempunyai arti: Raihan itu adalah anaknya
Budi yang lebih waspada (tidak seperti bapaknya yang suka sembrono).
Sedangkan
anak saya yang perempuan diberi nama dengan unsur campuran melayu dan Islam: “Rianti
Puti Ramadhani”.
“Rianti”
itu nama yang diberikan oleh Ibu, dengan alasan beliau pernah mempunyai murid
yang bernama Rianti yang anaknya baik, cantik, dan pintar. Tapi dari segi arti
harfiah, saya belum menemukan arti kata “Rianti” dari sudut semantik bahasa.
Namun kalau mau “maksa dikit”, Rianti terdiri dari Ria dan Anti, Ria = riang
gembira, Anto = anak laki, karena perempuan jadi Anti, jadi Rianti
diterjemahkan secara “semua gue” adalah: Anak perempuan yang selalu riang,
ceria, dan gembira.
“Ramadhani”
karena lahirnya saat bulan Ramadhan. Sedangkan
“Puti” dari bahasa melayu yang artinya puteri raja yang cantik jelita, kulitnya
putih dan bersinar. Ini agak mirip dengan nama Jawa “Ratih” yang artinya
bidadari atau nama bidadari.
Munculnya
nama “Puti” sebenarnya tidak lepas dari kenangan pribadi juga.
Waktu
aktif di Salman dahulu, saya pernah tertarik pada seorang gadis anak SMA yang
juga aktif di Salman yang bernama Puti. Dia memang cantik jelita, kulitnya
putih, bahasanya sangat santun, walau pakai kerudung, aura kecantikannya
menyebar ke segala penjuru. Kalau bicara dia tak pernah berlama-lama menatap
wajah ikhwan yang mengajaknya bicara, bahkan saat berjalan di keramaian dia tak
menoleh-noleh atau matanya jelalatan. Ia hanya berjalan, dengan mata lurus ke
depan atau melihat ke bawah. Benar-benar anggun, namun karena itu pula saya tak
punya nyali sama sekali untuk mendekatinya.
Saya
merasa beda level. Ia seperti gelas kristal yang sangat bersih dan indah. Saya seperti
rakyat jelata penuh dosa, sedangkan dia bidadari dari khayangan.
Kalau
saya agak maksa mengartikan kata “Rianti”, sebenarnya banyak orang yang memang
melakukan “improvisasi” dengan nama, dan ini sah-sah saja. Mereka melakukan
“othak-uthik gathuk” (dicocok-cocokin, disambung-sambung), dan yang enak
diucapkan dan bagus dirangkaikan.
Nama
anak-anak adik saya di antaranya: “Wirestu Sekar Andhani”. Wirestu dari kata
restu (doa/berkat) dan dipantes-pantes dengan tambahan “Wi”.
Sekar
= bunga yg harum, sedangkan Andhani dari kata Andani (patut, penurut).
Adik
Wirestu bernama “Nanindra Kinan Hapsari”. Kinan dari kata bahasa Arab “Kinanah”
(tempat anak panah), Hapsari dari Apsari (bidadari).
Seperti
halnya hakekat nama Jawa yang penuh makna dan mengandung harapan. Bagi seorang
muslim, nama juga penting karena memang Islam mengajarkan kita harus memberikan
nama yang baik.
Di
awal tulisan saya mengatakan: Kalau Shakespeare orang Jawa atau orang Islam,
maka dia tidak akan melontarkan ungkapan “Apalah artinya sebuah nama”.
Kenapa?.
Karena dia akan keberatan jika diberi nama “Joko Saru”, “Eko Wandu Winoto”,
atau “Sutejo Durjono”, karena Saru=jorok/cabul, Wandu=bencong/banci, dan
Durjono=jahat sekali (sekarang sudah diserap menjadi bahasa Indonesia:
durjana).
Atau
jika Shakespeare menjadi mualaf, dia pasti akan keberatan jika diberi nama
“Ahmad Munafikun” atau “Abu Kafirun”.
“Nama
yang baik” mempunyai pengertian yang luas, selain mengandung unsur doa, dan
syi’ar agama, juga diperlukan faktor kearifan/kebijakan. Artinya aspek harapan,
doa, dan syi’ar sebenarnya belum cukup.
Dan
pertimbangan bahwa harus “arif dan bijak”sebenarnya bukan hanya untuk nama Jawa
atau Islam, namun untuk nama umum yang lain.
Mengapa
harus bijaksana? Karena orang tua mungkin punya obsesi tertentu, namun harus
dipikirkan bagaimana anaknya akan menanggung nama tersebut sepanjang hidupnya.
Nama
seperti “Gempur Soeharto”, “Anakku Lelaki Hoed”, “Laksamana Sukardi”, “Senator
Nur Bahagia”, “Pahlawan Eka Putra”
adalah nama-nama yang bisa menyulitkan yang bersangkutan.
Pahlawan
adalah salah satu murid saya, dia mungkin merasa “kaboten jeneng” menyandang
nama pahlawan. Laksamana Sukardi adalah seorang pebisnis yang sukses dan juga
pernah aktif di suatu partai besar. Laksamana mungkin merasa canggung kalau dia
memilih karier di Angkatan Laut, karena akan rancu, saat menjadi kadet sudah
menyandang pangkat Laksamana.
Dr.Ir.
Senator Nur Bahagia adalah salah satu dosen di ITB, mungkin lebih baik dia
memilih sebagai dosen daripada karier di bidang politik.
Seorang
politikus India ada yang bernama “Adolf
Lu Hitler Marak”. Ini sangat tidak lazim, dan patut kasihani karena orang tahu
siapa Hitler itu. Seperti halnya tidak akan ada orang Islam yang memberi nama
anaknya Abu Jahal, Abu Lahab, atau Salman Rushdie karena mereka
orang-orang yang menentang Islam. Padahal Salman itu artinya “yang selamat”, Rusydi
= penunjuk jalan yg lurus. Namun karena perilakunya, kombinasi nama Salman Rushdie menjadi tercemar, sehingga
orang akan membuat kombinasi nama yang lain misalnya: Salman Paris Siregar, dan
Ahya Rusdi. Keduanya teman saya di ITB.
Mungkin saja Salman Paris hasil improvisasi dari
“Salman Al-Farisi”, seorang sahabat Nabi
Muhammad yang berasal dari Persia. Dikalangan sahabat ia dikenal sebagai Abu Abdullah. Salman Al-Farisi menjadi pahlawan
saat membuat ide membuat parit dalam upaya melindungi kota Madinah dalam
pertempuran Khandaq.
Sama halnya dengan Adolf Hitler atau Salman Rushdie,
saat ini mungkin tidak ada orang tua yang mau memberi nama anaknya dengan nama
Ariel atau Gayus.
Dulu jamannya tabloid TV yang pertama muncul, yaitu
Monitor, orang-orang terutama ibu-ibu sangat menggandrungi tabloid ini. Saya
pernah baca di rubrik pembacanya ada seorang ibu yang baru melahirkan anaknya
dan dengan sukacitanya memberi nama “Monitor”. Tidak terbayang dia akan
menyandang nama Bapak Monitor. Kalau dia punya gelar: dr.Monitor, Prof.Monitor,
ini sungguh nama yang ganjil.
Juga teman adik saya yang bernama Batur. Dia
berusaha untuk tidak bekerja di Jawa Tengah atau Jawa Timur karena dikira orang
dia menjadi pembantu seumur-umur. Masih mendingan dia hidup di Jawa Barat
karena batur disini artinya teman.
Apalagi orang yang bernama “Depressed Cupboard Cheesecake” dan “Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116”, bisa
dibayangkan menderitanya, baik yang bersangkutan, maupun orang yang ingin
memanggilnya.
Ada
juga teman saya yang memberi nama anaknya “ilman” (berilmu), namun dia harus
secara total melengkapi nama anaknya dengan nama bernuansa Islam untuk
menghindari kesan anaknya didoakan menjadi orang yang kurang sehat atau
sakit-sakitan.
Demikianlah
alasan mengapa memberi nama harus dengan pertimbangan kebijakan dan kearifan.
Tentang
kesulitan dalam memanggil nama, saya mempunyai tetangga sebelah rumah yang
bernama depan “Eugene”, dan juga nama teman anak saya: “Genevieve”. Walau tidak separah memanggil “Brfxxccxxmnpcccclllmmnprxvclmnckssqlbb11116”, namun
Eugene dan Genevieve membuat guru yang
akan mengabsen di kelas atau petugas apotek yang akan memanggilnya kebingungan
cara melafalkannya dengan benar.
Orang
awam seperti petugas apotek atau guru yang tidak fasih berbahasa inggris
bingung mengucakan Eugene, bisa diucapkan “eugèn”
atau “egèn”, atau jika diucapkan orang kita yang umumnya
familiar dengan bahasa inggris akan memanggilnya “yujin” atau “ejin”.
Padahal
dalam bahasa perancis, Eugene yang ditulisnya Eugène akan dibaca Uzèn, tentu dengan pengucapan yang khas
perancis.
Juga
untuk “Genevieve” orang yang bisa memanggilnya jenefif, jènèfif, atau jènif,
karena orang lebih biasa mendengar kosa kata inggris. Dan memang saat saya
tanya ke anak perempuan saya, si teman Genevieve itu dipanggilnya “Jènif”. Genevieve di Amerika memang
sama dengan Jennifer. Namun si orang tuanya memberikannya nama Perancis tentu
ada maksudnya, karena mungkin saat anaknya lahir dia sedang menyelesaikan
S3-nya di Université de Toulouse. Sehingga jika susah-susah diberi nama
Perancis lalu karena tak mau repot lalu melafalkannya kembali ke english like
“Jènif”, ya sayang juga. Genevieve
harusnya diucapkan “jenefief”.
Ada
beberapa nama Perancis beredar di negara kita ini, misalnya “Pierre” dibaca “piahr”
, “Eugène Dubois” (uzèn duboa), juga “Bordeaux” (bokhdhu).
Pasar
swalayan franchise (waralaba) dari Perancis Carrefour banyak disebut orang
dengan lafal Inggris “kerfor” atau “kerfur” seharusnya “kerh-fu”. Merk mobil Peugeot
diucapkan “pisyut” harusnya “pèzo”,
Citroen diucapkan “sitrun”, aslinya diucapkan “sitro”, sekali lagi tentu
diucapkan dengan khas pelafalan perancis yang banyak menggunakan suara hidung.
Suku kata “tro” dari “Citroen” diucapkan dengan suara hidung yang sangat
kental. Tentu kental suara hidungnya bukan ingusnya.
Kasus
dengan bahasa lain: “Albert Einstein” adalah orang Jerman sehingga mengucapkan
“Einstein” adalah “Ainstain”.
Dengan
segala hiruk-pikuk pelafalan nama yang menggunakan bahasa selain “english
like”, jadinya terlihat repot atau merepotkan orang lain. Sehingga secara
pribadi saya kurang sependapat dengan penamaan yang membuat situasi “serba
salah” tersebut, atau biarkan masyarakat mau membaca dengan cara apapun sesuai
interpretasinya, misal kalau petugas apotik orang Sunda asli lalu memanggil
Eugene dengan “eugèn” dimana
“eu” seperti mengucapkan “euweueh” ya dilarang protes atau marah.
Jika kita membaca perbendaraan nama-nama Islam
memang artinya bagus dan indah-indah. Di negara kita memberi nama bernuansa
Islam memang sudah lumrah, namun banyak pula yang tidak paham aturan pemberian
nama tersebut. Misalnya nama-nama yang makruh diberikan seperti memberi nama
anak dengan nama Surat Al Quran seperti Yasin, nama malaikat misalnya Mikail,
atau nama-nama yang memang diharamkan, seperti nama-nama yang mempunyai arti
penghambaan selain Allah, seperti: Abdur
Rasul (hambanya rasul), Abdul Husain (hambanya Al Husain), Abdusy Syams
(hambanya matahari), dan sebagainya. Saya mengambil contoh Yasin dan Mikail
karena saya sendiri punya kawan yang bernama “Muhammad Yasin”, dan “Mikail”.
Juga
banyak nama orang di Indonesia yang mengambil dari Asmaul Husna, seperti Rahman, Malik, Aziz, Ghaffaar, Halim,
Kariim, Hakim, Hamid, Wahid, Nur, Rasyid, dan sebagainya.
Untuk
penggunaan nama yang diambil dari Asmaul Husna tidak diperbolehkan kecuali
diikuti dengan ‘Abdu (hamba). Jadi sebenarnya tidak boleh memberi nama dengan
nama-nama Allah tanpa diikuti dengan Abdu, seperti “Rahman Saepudin”, “Muhammad
Aziz”, “Adam Malik”, tetapi seharusnya “Abdurrahman” (hambanya yang Maha
Pengasih), “Abdul Aziz” (hambanya Yang Maha Mulia), “Abdul Malik” (hambanya
yang Maha Merajai/Memerintah), dan sebagainya.
Beberapa nama Islam kadang mempunyai dialek yang
berbeda karena pengaruh lokasi geografis, misalnya: Husen, Hussain, dan Hossein yang artinya sama yaitu bagus, baik.
Iqbal
(kejayaan, kedatangan, kemujuran), Anwar (cahaya-cahaya), Amin (yang
dipercaya), Auliya (para pelindung),
masing-masing mempunyai dialek berbeda di negara seperti Turki, yaitu Eqbal,
Enver, Emin, dan Evliya.
Nama
bagus yang dipilih, kadang juga perlu dilihat arti lain kata tersebut, atau
makna pada bahasa lain yang menggunakan kata itu. Saya punya teman satu jurusan
di ITB yang bernama “Emanuel S. Bledug”, nama tengah “S” saya lupa
kepanjangannya namun yang jelas nama Jawa. “Bledug” mempunyai dua arti yaitu
“debu” dan “anak gajah”. Saya mencandainya saat dia masih hidup, karena teman
saya ini sudah meninggal: “Bledug itu karena kulitmu gelap seperti berdebu?
atau waktu lahir kamu ‘mblekenek’ seperti anak gajah?”. Ternyata maksudnya
‘anak gajah’. Mblekenek adalah istilah sesuatu yang gemuk-gemuk dan montok.
Nama
“Tina” dalam bahasa Yunani mempunyai pengertian “pengikut Kristus”, sehingga
tampaknya tidak sesuai untuk nama seorang muslim. Walau ada juga teman saya
seorang muslim yang sangat taat yang bernama “Christanto”, juga punya teman
muslim bernama “Maria”, “Alexander”, dan “Josef”. Tiga nama terakhir biasanya
menggunakan kata “Maryam”, “Iskandar”, dan “Yusuf”. Saya pun waktu SD pertama
kali diajari sholat dan baca Iqro oleh ustadz dari Sumatera Barat yang bernama
agak ganjil bagi seorang muslim apalagi ustadz: “Mohammad Yesus Thaif”.
Namun
saya juga punya dua tetangga satu RT turunan Chinese yang bernama “Yusuf Chandra”
(bukan Yosef Chandra), dan “Hendri Halim”.
Walau nama yang terakhir tentu Halim bukan mengambil dari Asmaul Husna
tetapi dari nama asli atau nama keturunanannya (Liem).
Sedikit
lagi tambahan tentang pemilihan nama kadang harus mengantisipasi jika salah
ucap, walau maknanya bagus, misalnya “Murtadho” (diridhai).
Yang
bernama “Murtadho” tentu tidak akan rela dipanggil “Bang Murtad” atau “Pak
Murtad”.
Nama dengan tiga suku kata memang kadang orang memanggilnya dengan menyingkatnya, seperti “Wirestu” sering dipanggil oleh teman-temannya: “Wires”.
Nama dengan tiga suku kata memang kadang orang memanggilnya dengan menyingkatnya, seperti “Wirestu” sering dipanggil oleh teman-temannya: “Wires”.
Sukarni,
Sunaryo, Sukarno, jika di Jawa akan sering dipanggil sebagai Karni, Naryo, dan
Karno, demikian pula dengan nama-nama yang depannya menggunakan “Su” lainnya.
Tetapi orang Sumatera akan lebih menyukai menggunakan dua kata di depannya.
Istri saya dari Sumatera Barat, keluarga dari pihak mertua mempunyai kerabat
yang bernama Sunaryo. Mereka biasa memanggilnya “Bang Sunar” bukan “Bang
Naryo”.
Memberi
nama anak, bagi sebagian orang mungkin suatu hal yang menarik dan penting,
sehingga dia mengupayakan dengan serius. Namun mungkin saja bagi sebagian orang
lainnya itu suatu beban atau suatu kebingungan, sehingga bisa muncul kombinasi
nama yang juga membingungkan atau aneh.
Tulisan
ini juga mungkin membingungkan pembacanya karena mengapa judulnya “Nombré bin
Nomé”. Nombré adalah Nama dalam bahasa Spanyol, sedangkan Nomé adalah Nama
dalam bahasa Italia. Lalu mengapa judul artikel ini seperti itu?
Saya
pun tidak tahu.☺
Bandung,
19 April 2011