Sabtu, 25 Februari 2017

Kucing

Tetangga sebelah rumah sudah dua hari ini tak pergi kemana-mana, mereka masih trauma. Dua malam yang lalu seekor anjing herdernya mati mengenaskan, sisa-sisa tubuhnya berceceran, dan darahnya mengotori kandang, halaman, dan rumput di taman belakang.
Mereka mempunyai 2 anjing Herder, dan setelah peristiwa tersebut, yang seekor lagi tampak sangat tertekan, dia tak mau makan, hanya duduk terdiam, merunduk, kepalanya ditempelkan sejajar lantai, matanya terlihat cemas, mungkin dia masih ketakutan kedatangan binatang pemangsa yang mencabik-cabik teman satu kandangnya. Binatang penyerang itu demikian kuat hingga bisa merusak pintu besi dengan giginya.

Pak Bambang, tetangga kami itu, belum bisa pergi ke kantor kembali karena masih mengkhawatirkan kondisi psikis anggota keluarganya, terutama anaknya yang perempuan. Malam-malam pun mereka lalui dengan cemas, karena masih ketakutan kucing itu datang lagi untuk menyerang anjing kesayangan mereka yang satu lagi.
Saya sendiri kesal kepada aparat pemerintah kota yang tidak serius menumpas kucing-kucing pemangsa tersebut yang bebas berkeliaran di jalanan. Saya khawatir upaya program penumpasan ini tidak akan berjalan baik untuk waktu yang akan datang, setelah kejadian minggu lalu saat seorang petugas diserang kucing jantan yang akan dibunuhnya. Untungnya dia selamat, namun dia terluka sangat parah.

Yang saya maksud tidak seriusnya pemerintah kota adalah petugas yang diturunkan di lapangan tidak memadai. Mereka hanya menurunkan 2 orang pada setiap kelompok. Ini runyam, karena jelas mereka berdua akan sulit jika tembakan mereka meleset dan kucing balik menyerang mereka, dan ini sering terjadi. Jika mereka menemukan kucing betina, biasanya lebih aman karena kucing betina tidak seagresif kucing jantan. Kucing betina biasanya berusaha melarikan diri, namun tidak demikian untuk kucing jantan, mereka akan marah dan balik menyerang.

Kucing betina ukurannya kecil, panjang badan dari kepala hingga ekornya tak lebih dari 2 meter, tubuhnya lencir memanjang dengan tinggi sekitar 60 cm, sehingga dalam keadaan terdesak petugas masih bisa menghantamnya dengan gagang senapan bila dia menyerang balik. Tetapi yang jantan, mereka lebih kekar, lebih beringas. Kucing jantan terbesar yang mati ditembak bulan lalu panjangnya 2.5 meter dengan tinggi 75 cm. Ini jelas menakutkan, karena ukuran badannya seperti harimau Sumatera, jenis harimau di masa silam yang sudah punah 50 tahun lalu.

Binatang sebesar ini memang tak patut berkeliaran dalam kota, mereka seharusnya dimusnahkan atau dipelihara di kebun binatang. Namun sejauh ini memang belum ada kasus mereka menyerang manusia untuk alasan isi perut, kecuali tentu saja kasus “membela diri” karena mereka diserang dan dilukai oleh petugas pemerintah tersebut.
Selama ini memang mereka mencari makan dari sisa-sisa makanan di tempat sampah, menyerang dan memakan ayam peliharaan, ular sawah, tikus got (Rattus norvegicus), atau anjing kampung yang berkeliaran dan tidak punya pemilik. Namun disebabkan populasi mereka yang demikian cepat, mereka akhirnya bersaing memperebutkan makanan.

Kami sering mendengar perkelahian antar mereka di malam hari, dan tak jarang mereka saling memangsa.
Tampaknya hukum dan seleksi alam akhirnya berjalan, saat mereka tidak lagi menemukan ayam, tikus got, atau anjing kampung yang berkeliaran, maka suatu hal yang logis jika akhirnya terjadi penyerangan anjing peliharaan, herder pula, dan ini sudah 2 kali terjadi di lingkungan kami.
Sehingga wajar bila kami saat ini mulai merasa was-was dan khawatir, suatu saat, cepat atau lambat, mereka akhirnya menyerang manusia sebagai mangsa bukan lagi membela diri.
Saat ini memang mereka masih menghindari untuk berhadapan langsung dengan manusia. Mereka tak pernah dijumpai di siang hari, mereka sembunyi dalam gorong-gorong, dan berkembang biak disana.

Saya pernah pulang larut malam yang sepi, tiba-tiba entah dari mana datangnya, dalam kegelapan saya melihat binatang menakutkan itu ada di tengah jalan yang sudah sepi, teronggok hitam, saya refleks berhenti dan menyalakan lampu besar motor saya. Kucing tersebut menoleh, mata hijaunya bersinar terkena lampu, dia menyeringai, tampak taring-taringnya berkilat.
Saya terkesiap, seakan semua darah dalam tubuh terhisap cepat ke arah jantung. Tengkuk, kepala, wajah, ujung jari, hingga kaki saya terasa dingin membeku. Saya belum pernah demikian terkejut dan takut seperti itu. Saya terpaku, namun tak lama kucing kekar dan hitam tersebut meloncat pergi dan hilang di kegelapan. Saya langsung tancap gas menuju rumah dalam keadaan jantung masih berdegup.

Itu kejadian 2 minggu lalu, sementara kejadian petugas yang luka parah terjadi minggu lalu, kemudian peristiwa penyerangan di rumah pak Bambang dua hari lalu. Ini membuat saya penasaran dengan kehidupan kucing di masa silam. Bagaimana mereka mengatasinya, karena tidak pernah terdengar kejadian penting, sehingga tampaknya kucing bisa hidup berdampingan dengan baik dengan manusia di masa yang lalu.

Saya pun mengambil gawai, mengaktifkan mode hologram, dan memberi instruksi lisan. Tak lama gawai mungil berukuran 5x10 cm itu menayangkan citra di udara berukuran 20 x 30 cm.  Saya memberi perintah pemanggilan pada mesin pencari, meminta membuka layar kedua, memilih satu-dua Wiki, berita, arsip, dan beberapa situs pencarian penting lainnya. Saya menyebutkan keyword pencarian yang sama untuk semua situs yang saya buka yaitu: “kucing”.

Di antara puluhan link yang muncul, saya menemukan dan tertarik satu link artikel yang judulnya: “Mutasi atau Adaptasi?”. Saya menggeser link tersebut dengan jari ke arah kanan ke luar bidang layar, dan layar hologram baru pun muncul dengan tayangan artikel  tersebut.
Tertulis penulisnya:  Epsi Budihardjo, Juli 2011. Hah? Gila, ini artikel 80 tahun yang lalu kok masih ada?. Dan yang lebih mengejutkan, Epsi Budihardjo!, ini nama yang tak ada duanya.  Epsi Budihardjo adalah kakek buyut saya! Saya tak menyangka Eyangyut suka menulis!.
Saya menyentuh ikon “Resize” dan menyapunya dengan telapak tangan lebih ke atas agar hologram melebar.
Saya pun mulai membacanya dengan cepat, dan saya pun terkesima.

Eyangyut menceritakan tentang keheranannya akan perilaku beberapa binatang yang ada di sekitar rumahnya. Sebelumnya, binatang melata yang ada di dinding rumah yang bernama cicak  hanya makan nyamuk.
Eyang dan seisi rumah sering kesal karena binatang melata yang panjangnya hanya 10 cm itu mulai naik di atas meja, menyantap makanan di atas piring. Hal ini membuat Eyangyut dan anggota keluarga selalu waspada untuk selalu menutup lauk sisa makan malam, agar esok pagi tidak berceceran diacak-acak oleh cicak.
Bahkan Eyang menceritakan pernah lupa menghabiskan segelas susu dan meninggalkan tanpa ditutup, dan paginya melihat seekor cicak mati mengambang di gelas susunya itu.
Artinya, jaman itu, cicak tak hanya menyantap nyamuk seperti saat Eyang di bangku SD, SMP, atau SMA, namun sudah menyukai nasi, daging, sayur, bahkan susu.

Eyangyut  pun menceritakan tentang nyamuk itu sendiri.
Pada tahun 2011 tersebut nyamuk tak lagi hanya menghisap darah, namun Eyangyut menjumpai nyamuk menempel di makanan dan minimum yang manis, entah itu kue, cake, permen coklat, buah-buahan, dan menempel pada teh dan susu manis di gelas.
Eyang menuliskan begini:
“Nyamuk konvensional itu mengganggu saat kita mau tidur, sedang nonton TV, sedang membaca di ruang keluarga, atau juga saat kita sedang berkebun. Namun sekarang ini, saat saya sedang menyiapkan adonan untuk membuat pisang goreng untuk anak-anak, nyamuk mulai mendenging di sekitar saya, dan mereka menempel pada pisang tanduk yang sudah dikupas, dan juga pada adonan yang memang manis.
Juga saat saya bekerja dengan notebook di ruang kerja, saya biasa ditemani secangkir kopi instan atau teh susu, dan saya sudah biasa menghalau nyamuk, bukan hanya nyamuk yang menggigit tengkuk atau lengan, namun juga mengusirnya dari gelas kopi atau teh susu.”

Eyang juga bercerita pernah suatu malam memergoki musang yang sedang bertengger di atas pohon pepaya, sedang menggrogoti buah yang sudah ranum, dan saat tertangkap basah, dia turun dengan cepat, melompati pagar dan hilang di balik tembok.
Sebelumnya Eyang menyangka dia sering kalah cepat memanen pepaya dengan kelelawar, namun ternyata musang!.
Di bagian lain, Eyang menyebutkan dengan panjang lebar binatang-binatang yang bisa survive pada jaman modern yang sudah penuh polusi ini dan juga “makanan khas” yang sudah terbatas untuk setiap spesies. Di antaranya Eyang menyebutkan cicak, kucing, tikus got, nyamuk, beberapa burung, dan termasuk musang yang biasanya dahulu cuma ditemukan di kampung-kampung yang letaknya dekat hutan. Sehingga dengan keterbatasan makanan khasnya, maka setiap spesies tampaknya mulai beradaptasi dengan jenis makanan lain. Cicak tak lagi menangkap nyamuk seperti dalam lagu, kucing tak lagi mengejar tikus, musang tak lagi mencuri ayam seperti di buku SD, namun bisa nyelonong masuk ke rumah dan membuat isi kulkas berantakan, nyamuk pun kini menyukai kopi instan 3-in-1.

Ada bagian kisah yang unik dalam tulisan Eyangyut, beliau menuliskan begini:
“Saya rutin mengganti atap/plafon jemuran yang terbuat dari Fiber, karena atap Fiber hanya tahan tak lebih dari 2 tahun. Atap gelombang dari Fiber tersebut diganti saat sudah penuh dengan lubang-lubang. Saya dulu menggunakan atap plastik gelombang, namun atap plastik tak tahan sinar Ultra-violet, mereka akan cepat menjadi getas, sehingga mudah patah dan hancur. Atap Fiber memang lebih tahan sinar matahari, namun bahan Fiber punya musuh, yaitu burung!. Mereka mematoki dan mengambil serat gelasnya, ini yang membuat atap Fiber tidak awet karena akhirnya berlubang-lubang.
Mengapa burung-burung tersebut mengambil serat-serat gelas dari atap Fiber? Buat dimakan? Tentu tidak!.
Saat rumah kami direnovasi, tukang saya menemukan sarang burung di atas para. Sarang burung ini bukan terbuat dari ranting atau rumput kering seperti yang ada di buku-buku pelajaran  atau cerita anak-anak, namun dari serat-serta Fiber!.”
Saya tersenyum membaca ini, aneh tapi nyata.

Saya kemudian melewati beberapa penggalan paragraf karena saya sedikit tak sabar mencari bahasan khusus tentang kucing. Saya menyapu halaman demi halaman dengan telapak tangan. “Nah ini dia!”
Eyang menuliskan disitu:
“Sementara kucing, adalah binatang yang biasa menjadi peliharaan di rumah-rumah.
Kucing adalah binatang yang lucu, manis, senang dibelai, tatapannya yang ayu, penuh belas kasihan, senang menggelosor di kaki kita, dan dengan manja naik ke atas pangkuan atau tubuh kita saat kita sedang duduk atau berbaring.”

Saya berhenti sejenak membaca karena heran. Hah? Lucu, manis, dan manja? Binatang besar yang mengerikan dan horor itu? ayu, lucu dan manis?. Saya mengalihkan pandangan ke layar hologram yang sebelah kiri yang penuh dengan link hasil pencarian, saya menyentuh salah satu, dan langsung terkejut melihat foto hewan ini di masa lampau, karena binatang ini memang lucu, imut, dan menggemaskan. Dan ukurannya! Kecil sekali, tingginya hanya 20-an cm, dan panjangnya tak lebih dari 60 cm dari kepala hingga ujung ekor. 
Lalu saya kembali beralih ke tulisan Eyang.

Eyangyut juga menyatakan keheranan akan perilaku kucing yang mulai berubah. Dia tak lagi bersikap sopan. Bersikap sopan? Oh, Eyang menuliskan begini:
“….. Dahulu kucing dikenal pemalu dan sopan. Kucing mempunyai instink, yaitu akan menggali tanah saat akan buang hajat besar, lalu menimbunnya kembali. Namun saat itu sudah jarang dijumpai kucing seperti itu. Kucing berak di sembarang tempat dan meninggalkannya demikian saja, sehingga bau tengik kotoran kucing yang khas dan bikin mual itu menyebar kemana-mana.
Jaman ini, saya mulai bingung saat melihat kucing yang lari terbirit-birit saat ada tikus got keluar dari selokan dan melintasi jalan. Padahal hukum alam yang dikenal masa kecil dulu: Kucing itu mengejar dan makan tikus.”

Saya menyelesaikan membaca artikel tersebut sampai habis, namun saya tak menemukan bagian tulisan yang mengindikasikan perilaku dan fisik kucing yang demikian berubah, yang semula lucu, anggun, imut, manis, dan manja, menjadi seukuran harimau, menyeramkan, mengerikan, beringas, dan menyebarkan ketakutan dan teror. Mungkin saya harus mencari tulisan lain perioda 20 atau 30 tahun setelah tahun 2011 tersebut.
Saya kembali mencari link pencarian yang ada di hologram sebelah kiri, saya membuka beberapa diantaranya dan saya membacanya satu persatu.

Ada artikel di suatu blog, yang merangkum tentang kucing ini dari beberapa jurnal ilmiah, kurang lebih isinya begini:
“Kucing rumah (dengan nama latin: Felis catus) adalah binatang peliharaan yang biasa ada di rumah-rumah atau tak berpemilik yang berkeliaran di jalanan.
Sementara kucing hutan (Prionailurus bengalensis) adalah kucing yang memang hidup di alam liar. Namun kucing jenis ini akhirnya punah karena banyak diburu untuk diambil kulitnya yang halus dan menyerupai corak kulit macan tutul. Harga kulit kucing hutan saat itu memang mahal sekali.

Lalu ada suatu perioda dimana kucing hutan pun kehilangan rantai makanan karena makin sempitnya lahan, sehingga mereka mulai memasuki kampung dan rumah-rumah di kota untuk mencari makan.
Sehingga ada 3 jenis hewan Kelas Mamalia, bahkan sama-sama Ordo Carnivora yang berada pada lingkungan yang sama, yaitu kucing rumah, kucing hutan, dan musang (Paradoxurus hermaphroditus), maka kemungkinan besar terjadi perkawinan silang antar mereka.
Ditambah dengan adanya faktor kadar bahan kimia sintetis yang ada pada makanan, pencemaran lingkungan, serta kondisi udara yang terkontaminasi, membuat perkawinan ketiga spesies hewan ini bermutasi, beradaptasi, dan menghasilkan jenis hewan yang lebih buas, beringas, dan tidak lagi lucu, imut, manja, dan menggemaskan.”

Saya termenung. Ujung-ujungnya akhirnya selalu ke masalah itu lagi. Lingkungan yang tak lagi natural, pencemaran, kontaminasi, bahan kimia sintetis, putusnya rantai makanan, hilangnya lahan hutan, rusaknya keseimbangan alam, dan sebagainya, sementara populasi tak bisa dibendung.

Saya terhenyak dari lamunan saat mendengar suara raungan di luar.
Saya berdiri lalu mengamati jalan di luar yang gelap melalui jendela kaca.
Tampak 2 ekor kucing bertarung, namun tak lama, yang satu melarikan diri dengan luka pada tengkuknya. Kucing pemenang tersebut masih menggeram dan terdiam. Namun tampaknya dia tahu ada yang mengamati. Dia menoleh perlahan ke arah saya, menatap tajam. Saya menatapnya pula, dia menyeringai, tampak giginya yang merah penuh darah.
Bulu kuduk saya pun berdiri.

Ikhsan Budihardjo, Jr.

10-Mei 2090